Home Kesehatan 14 Tips Melatih Kecerdasan Emosional

14 Tips Melatih Kecerdasan Emosional

100
0
SHARE

Banyak yang berkata kalau kecerdasan intelektual atau yang biasa disebut dengan IQ tidak menentukan kesuksesan, namun kecerdasan emosional atau yang disingkat dengan EQ yang menentukan kesuksesan.

Banyak contoh di luar sana, orang yang memiliki IQ yang pas-pasan namun memiliki EQ yang cukup tinggi, mampu sukses di luar sana. Maka dari itu, perlu bagi kita untuk melatih kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional adalah kecerdasan dalam berinteraksi dalam masyarakat. Bagaimana menempatkan diri dalam lingkungan, tidak melulu berhubungan dengan teori, tapi lebih kepada praktik, cenderung praktik terjun ke dalam masyarakat. Teori dan praktik merupakan dua ilmu yang perbedaannya sangat jauh.

Maka dari itu, perlu rasanya untuk melatih kecerdasan emosional tersebut. Untuk bekal di dunia kerja di luar sana. Sudah bukan rahasia lagi, IQ dibutuhkan pada saat masa pendidikan, namun EQ sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.

1. Introspeksi terlebih dahulu
Introspeksi merupakan proses pengamatan terhadap diri sendiri dan bagaimana pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi secara disengaja (wikipedia).

Maksud dari introspeksi tersebut adalah bagaimana melihat dalam diri sendiri. Bagaimana memahami diri sendiri. Bagaimana mengenal diri sendiri lebih dalam. Karena dengan introspeksi diri, diharapkan mampu mengenal diri sendiri lebih dalam.

Melatih kecerdasan emosional merupakan melatih kecerdasan dalam berinteraksi. Jika diri sendiri tidak dipahami, bagaimana dengan memahami orang lain? Ada pepatah yang mengatakan, “Semut di kejauhan sangat mudah terlihat namun gajah di depan mata sangat sulit terlihat.”

Melihat kesalahan orang lain walaupun kecil sangat mudah terlihat. Namun melihat kesalahan diri sendiri itu sangat sulit untuk dilihat. Makanya, mulailah introspeksi diri, agar menjadi lebih baik. Dan juga, dengan introspeksi diri, maka akan membuka rasa empati terhadap orang lain. Kecerdasan emosional tinggi, berarti tinggi pula rasa empatinya.

2. Meminta pendapat orang lain
Sesudah introspeksi diri, artinya tahu dengan diri sendiri lebih dalam, maka jangan lupa meminta pendapat orang lain. Bagaimana cara kita bersikap, dan bagaimana ke depannya dalam bersikap. Bisa juga meminta kelebihan dan kekurangan diri sendiri, untuk sebagai introspeksi diri selanjutnya.

Dengan demikian, kecerdasan emosional sedikit demi sedikit semakin terasah. Kita akan tahu bagaimana cara kita bersikap, apa yang harus diperbaiki dalam diri sendiri. Pendapat orang lain sangat berharga dalam kemajuan diri sendiri.

Namun hal yang harus diingat adalah, orang lain tersebut adalah orang yang telah mengetahui diri sendiri seutuhnya. Bisa jadi sahabat, orang tua, maupun kekasih hidup. Mereka adalah orang yang telah mengetahui diri sendiri secara utuh. Jangan meminta pendapat orang lain yang baru dikenal, karena mereka belum mengetahui diri sendiri secara utuh.

3. Mencoba menulis
Bisa juga Anda menulis di buku harian. Cobalah untuk menumpahkan segala gundah dan sukacita di buku harian. Hal tersebut mampu membangkitkan rasa empati dan simpati Anda.

Misal, Anda bersukacita hari ini karena kesuksesan Anda, dan Anda mengingat siapa di balik layar membantu Anda untuk sukses. Atau Anda merasa gundah hari ini, tulislah segala hal yang membuat Anda gundah.

Menulis adalah ekspresi jiwa. Dengan menulis, maka ekspresi jiwa semakin tersalurkan. Segala gundah akan tersalurkan, begitu juga segala sukacita akan tersalurkan. Dengan demikian, Anda mulai membuka diri sendiri. Ini juga media introspeksi diri yang cukup efektif.

4. Mencoba mengenal emosi orang lain
Janganlah menjadi orang yang terlalu egois, karena orang egois tidak ada yang suka. Orang egois hanya mementingkan diri sendiri. Orang lain tidak dipentingkan. Hanya keinginan diri sendiri yang dia pikirkan. Maka tak heran orang egois ini sangat sedikit yang sukses, justru terpuruk dalam buruknya kehidupan. Karena mereka tidak mengerti dengan orang lain.

Mencoba mengenal emosi orang lain merupakan langkah yang sangat efektif untuk menghindari keegoisan dan juga melatih kecerdasan emosional. Mulailah dengan sahabat sendiri. Pahami dirinya lebih dalam.

Pastinya, emosi di dalam dirinya selalu ada, tapi ada yang ditunjuk ada yang dipendam. Begitu juga dengan orang yang baru dikenal, mulailah mencoba mengenal emosi yang ada di dalam dirinya.

Hal ini cukup efektif dalam berinteraksi nantinya. Jika Anda sudah mampu mengenal emosi orang lain, Anda pun dengan mudah menentukan sikap. Misalnya, emosi client Anda sedang tidak baik, ingin marah, Anda juga mampu bersikap untuk menghindari kemarahannya.

Jika tidak mengerti emosi orang lain justru sangat berbahaya. Misalnya, client sedang tidak enak emosinya, tidak dalam keadaan senang diajak bercanda. Dan Anda mencoba bercanda dengan dirinya. Pada akhirnya, kesepakatan tidak akan terjadi antara Anda dengan client.

5. Memotivasi orang lain
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memotivasi orang lain (Sanjay Kumar). Di dalam jurnal tersebut dikatakan, si Sanjay Kumar melakukan penelitian mengenai hubungan antara pemimpin, kecerdasan emosional, dan motivasi orang lain.

Dan pada hasilnya didapat hubungan antara pemimpin, kecerdasan emosional, dan motivasi orang lain. Maka secara tidak langsung dapat dikatakan seseorang yang mampu memotivasi orang lain, kecerdasan emosionalnya sangat tinggi. Yang artinya, kesuksesan dekat dengannya karena dia merupakan figur calon pemimpin yang baik.

Maka dari itu, jangan malas untuk motivasi orang lain. Ada teman yang sedang malas untuk belajar, mulailah memotivasi dirinya untuk belajar. Jika Anda berhasil, maka Anda pun senang bukan.

Memotivasi orang lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena perlu yang namanya pendekatan emosi dan pemilihan kata yang bagus. Dan juga dibutuhkan empati yang sangat tinggi. Ini merupakan salah satu ujian terberat dalam melatih kecerdasan emosional.

6. Mencoba berpikir dahulu sebelum bertindak
Mengapa hal ini perlu? Karena bertindak dahulu tanpa pikir panjang tentu akan memberikan dampak yang serius. Bisa dampak yang positif tapi bisa juga dampak negatif. Lebih banyak hal yang negatif sih.

Misalnya teman sakit keras. Maka tanpa pikir panjang, langsung menjenguk teman yang sakit, padahal hari itu adalah hari yang penting. Mengabaikan hari yang penting dalam menjenguk teman yang sakit. Bisa sih ini dikatakan positif tapi bisa juga negatif.

Tapi, jika Anda bicara kasar karena emosi padahal lawan bicara Anda adalah client yang sangat penting. Apa yang terjadi? Tentu saja perjanjian akan batal. Atau Anda marah karena cemburu melihat kekasih bersama orang lain, padahal belum tentu dia selingkuh. Hal tersebut sangat berdampak buruk.

Berpikir sebelum bertindak sangat efektif untuk menentukan sikap ke depannya. Karena melakukan segalanya secara spontan mampu menimbulkan dampak negatif yang sangat besar. Dan orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, biasanya berpikir sebelum bertindak.

7. Mau menerima kritikan
Hampir sama sih dengan poin nomor dua. Tapi, jika pendapat dari teman itu biasanya tidak menggunakan kata pedas, biasanya berupa masukan yang membangun. Kata-katanya halus, ataupun bila berkata kasar, tidak membuat sakit hati.

Namun bagaimana dengan kritikan orang lain? Tentu saja ini sangat pedas. Tidak semua orang menerima kritikan tersebut. Bahkan ada orang yang marah-marah ketika mendengar kritikan. Hal tersebut menunjukkan EQ yang rendah.

Seseorang yang EQ tinggi menyadari betapa pentingnya kritikan tersebut. Karena dengan kritikan membuat diri sadar akan kesalahan yang dibuat. Mungkin ada kebijakan yang menurut diri itu sangat bagus, namun tanpa disadari merugikan sebagian orang lain.

Namun, jangan semua kritikan langsung diterima. Pelajari dan telaah lebih lanjut, hal tersebut karena tidak semua kritikan itu benar-benar membangun. Ada kritikan yang menjatuhkan mental sehingga mematahkan semangat.

8. Berinteraksi dengan orang lain
Jika Anda seorang ekstrovert, berinteraksi dengan orang lain memang tidak begitu menyulitkan. Namun hal yang menyulitkan adalah berinteraksi dengan orang baru yang berbeda dari orang yang biasa dihadapi.

Dan bagi seorang introvert, berinteraksi dengan orang lain memang agak menyusahkan. Namun sebaiknya berusahalah untuk berinteraksi dengan orang lain. Karena tidak ada orang yang bisa bertahan kalau hidup sendiri. Perlu yang namanya interaksi dengan orang lain.

Berinteraksi dengan orang lain di sini adalah orang lain yang lain dari biasanya dihadapi. Karena merekalah orang yang potensial untuk membangun diri sendiri. Baik untuk seorang ekstrovert maupun introvert sedikit kesulitan bila berinteraksi dengan orang seperti ini. Namun hal tersebut harus dilakukan demi kesuksesan.

Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi tidak akan canggung bila berinteraksi dengan orang baru. Walaupun orang baru tersebut sangat lain dari yang biasanya dia hadapi.

9. Bertanggung jawab
Jangan lari dari masalah, karena itu tidak akan memecahkan masalah, yang ada akan memperbanyak masalah. Sebaiknya jadilah orang yang bertanggung jawab. Karena orang yang bertanggung jawab sangat dibutuhkan oleh siapa saja.

Orang yang lari dari tanggung jawab adalah orang yang pengecut. Hal tersebut tercermin dari sikapnya yang lari dari masalah. Padahal masalah itu harus di hadapi dan pecahkan. Di dunia ini, dunia yang kejam ini, pasti ada yang namanya masalah. Namun, bagi orang yang tidak bertanggung jawab, tidak tahan dengan kehidupan dunia ini.

Kerja dunia ini secara selektif memilih orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. Maka dari itu, ada yang namanya cobaan. Semakin dekat dengan kesuksesan, maka semakin besar cobaan yang diterima. Bagi orang yang bertanggung jawab, hal tersebut harus di hadapi. Namun bagi orang yang tidak bertanggung jawab, mereka justru lari dari cobaan tersebut.

Salah satu melatih kecerdasan emosional yang cukup efektif adalah cobalah untuk bertanggung jawab. Jangan lari dari masalah, karena masalah itu untuk dihadapi bukan untuk dihadapi.

10. Jujur
Jujur itu pahit tapi menghasilkan sesuatu yang manis. Orang yang tidak suka dengan kejujuran, adalah orang yang sering berbuat kesalahan. Orang yang memiliki EQ yang sangat rendah. Namun, bagi orang yang memiliki EQ tinggi, sangat menjunjung tinggi yang namanya kejujuran.

Orang jujur menunjukkan kecerdasan emosional yang tinggi. Dengan menjadi jujur, maka seseorang itu dikatakan berhasil. Berhasil untuk menaklukkan ketidakjujuran dalam dirinya. Karena cobaan bagi orang yang jujur itu sangat berat. Banyak sekali tantangan yang dia terima. Namun jika dia berhasil melewatinya, maka hadiah yang didapat sangat manis.

Untuk melatih kecerdasan emosional Anda, cobalah untuk jujur apapun keadaannya. Bahkan, jika Anda ditimpa masalah, cobalah untuk jujur dan bertanggung jawab. Namun jujur di kehidupan dunia memang sudah berubah. Dan ingat, kalau ingin berkata jujur, sebaiknya pilihlah kata-kata yang manis tanpa ada unsur kebohongan di dalamnya.

11. Coba keluar dari zona nyaman
Seseorang akan maju jika dia keluar dari zona nyaman. Dia sangat ahli dalam memancing ikan di tempat pemancingan. Dia adalah juara dalam memancing di daerahnya. Namun, jika dia ingin menjadi lebih sukses, harus mencoba memancing di laut.

Tentu saja medan yang dia hadapi sangat berbeda jauh. Dan ini sangat jauh dari zona nyamannya. Jika dia berhasil menaklukkan memancing di laut, maka dia akan menjadi pemancing yang hebat.

Banyak orang yang enggan untuk keluar dari zona nyaman. Hal tersebut cukup masuk akal, karena keluar dari zona nyaman artinya belajar dari sesuatu yang baru. Belajar dari awal lagi untuk mampu berhasil.

Namun, jika ingin menjadi orang yang sukses, orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, sebaiknya keluarlah dari zona nyaman. Hal ini sangat dibutuhkan. Keluar dari zona nyaman artinya menambah pengalaman baru. Orang-orang sukses di luar sana, pastinya memiliki pengalaman yang sangat banyak. Sudah puluhan kali mereka keluar dari zona nyaman.

12. Taklukkan rasa takut
Taklukkan rasa takut dari kegagalan, karena kegagalan itu hal yang biasa, tapi menaklukkan rasa takut dari kegagalan adalah hal yang luar biasa. Sangat sedikit orang yang mampu menaklukkan rasa takut dari kegagalan.

Jika rasa takut tersebut terus dipelihara, maka memunculkan depresi. Seseorang yang mudah depresi menunjukkan seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah.

Dalam penelitian Downey LA, dkk menunjukkan hubungan orang yang mudah depresi dengan kecerdasan emosional. Seseorang yang mudah depresi adalah seseorang yang memiliki EQ rendah. Mereka tidak mampu menghadapi rasa takut yang ada di dalam diri mereka.

Kegagalan itu adalah sesuatu yang pasti. Kegagalan itu akan menghadapi Anda cepat atau lambat. Dan cara mensiasatinya adalah dengan menaklukkan rasa takut dari kegagalan tersebut. Setiap usaha yang Anda lakukan, pasti ada kemungkinan kalau Anda gagal.

Bahkan hal yang sederhana seperti memasak air. Memang mudah memasak air, namun potensi kegagalan dari memasak air juga besar.

Seperti Anda lupa mematikan kompor dalam waktu yang lama sehingga setengah air telah menguap, atau Anda lupa mengisi gas padahal gas hampir habis sehingga air belum mendidih gas sudah habis, atau Anda tidak hati-hati sehingga menyebabkan kebakaran, masih banyak kemungkinan kegagalan yang lain.

Hal yang perlu Anda tanamkan, setiap usaha pasti ada kemungkinan untuk gagal. Namun, jangan takut menghadapi kegagalan tersebut. Jika kegagalan tersebut mendatangi Anda, hadapi tanpa ada rasa takut, bertanggung jawab, jujur, dan belajarlah dari kegagalan tersebut.

13. Motivasi diri Sendiri
Jangan motivasi orang lain bisa tapi tidak bisa motivasi diri sendiri tidak bisa. Sebaiknya bisa juga memotivasi diri sendiri. Karena hal tersebut sangat penting bagi usaha kedepannya. Seseorang yang tanpa memiliki motivasi, rata-rata tidak ada semangat hidup.

Seseorang yang terlihat semangat dalam kehidupannya, ada motivasi yang selama ini dia tanamkan ke dalam dirinya sendiri. Dan motivasi tersebut yang membuat dia tidak takut menghadapi kegagalan.

Seperti Thomas Alfa Edison, yang mengalami kegagalan seribu kali. Namun dia memiliki motivasi untuk membuat bola lampu, sehingga kegagalan yang seribu kali tersebut tidak mematahkan semangatnya.

14. Rendah hati
Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tidak akan bersikap sombong. Mereka akan rendah hati, karena mereka sadar mereka tidak ada apa-apanya. Masih banyak di atas mereka. Dan juga mereka suka sekali menolong orang yang membutuhkan.

Mereka tidak berfoya-foya cenderung memberikan harta mereka ke orang yang membutuhkan. Sama-sama mengeluarkan harta sih. Tapi berfoya-foya merupakan mengeluarkan harta yang tidak perlu, cenderung memberikan dampak negatif. Namun mengeluarkan harta dengan memberikan ke orang yang membutuhkan memberikan dampak yang sangat positif.

Rendah hati juga mengangkat derajat dan wibawa seseorang. Orang yang sombong tidak ada yang suka dan justru banyak yang membencinya. Namun, orang yang rendah hati banyak yang menyukainya, bahkan dijadikan panutan.

Penutup
Melatih kecerdasan emosional sangat penting. Karena hal tersebut menentukan kesuksesan dalam menjalani kehidupan dunia. Dan perlu diingat, IQ tinggi belum menentukan seseorang itu sukses. Tapi EQ tinggi mampu menjamin seseorang tersebut baka sukses.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here