Home Peristiwa Astaghfirullah, Begini Kisah Pilu Seorang Wanita di Malam Pertamanya

Astaghfirullah, Begini Kisah Pilu Seorang Wanita di Malam Pertamanya

177
0
SHARE

Seorang wanita belum lama ini membagikan kisah pilunya ketika mantan suaminya nekat menyerangnya justru pada malam pertama setelah keduanya menikah.

Dikutip dari Daily Mail, bahkan pria ini nekat melakukan pemerkosaan kepadanya karena ingin sekali memiliki seorang anak.

Charlotte Walford, asal Northampton, awalnya mengira kalau suaminya, Spencer Walford, adalah sosok yang selama ini ia cari untuk mendampinginya seumur hidup.

Sayang, beberapa jam setelah keduanya mengikat janji suci dalam pernikahan, Spencer yang berusia 28 tahun justru melakukan kekerasan brutal kepada istrinya tersebut.

Keributan yang awalnya bermula saat resepsi pernikahan ini semakin melebar dan berlangsung selama berbulan-bulan. Sampai akhirnya Charlotte merasa kalau sudah saatnya ia melaporkan hal ini kepada polisi.

Charlotte, yang berusia 30 tahun, menceritakan bagaimana dirinya merasa sangat malu untuk bercerita kepada semua orang, sebelum akhirnya Charlotte dinyatakan hamil anak laki-laki dari Spencer.

Dalam upayanya untuk melindungi sang jabang bayi, Charlotte pergi ke kantor polisi dan memberikan pernyataan tentang kekerasan yang selama ini dilakukan Spencer.

Atas perbuatannya, Spencer divonis hukuman penjara selama 14 tahun setelah dinyatakan bersalah melakukan pemerkosaan dan penyerangan kepada Charlotte. Charlotte berharap agar kejadian yang menimpanya tak dialami oleh wanita lain.

Ia menuturkan :

”Aku berharap aku tak pernah menikah dengan Spencer, tapi yang namanya hidup itu tak pernah lepas dari namanya penyesalan. Setidaknya dia sekarang sudah di penjara.”

Charlotte menceritakan awal pertemuannya dengan Spencer bermula ketika ia sedang pergi berbelanja.

Meski sempat mengalami cobaan selama menjalin hubungan di awal, Spencer pun akhirnya melamarnya setelah keduanya menjalin hubungan selama 6 bulan.

Delapan minggu kemudian, keduanya pun menikah di salah satu kantor pemerintahan di kota mereka. Dalam acara ini, keduanya hanya mengundang beberapa teman dan keluarga mereka saja. Namun saat merayakan pesta pernikahan mereka di salah satu pub pada malam hari, Spencer justru menarik sang istri.

Dengan penuh emosi, ia sempat menuduh kalau istrinya itu sudah mabuk. Charlotte menuturkan :

”Aku cuma minum beberapa gelas anggur dan jarang-jarang aku merasakan suasana seperti itu, tapi aku sama sekali tidak kehilangan kontrol atau mabuk. Aku tidak mengerti apa maksud suamiku saat itu. Aku bahkan tak sempat berpamitan dengan teman-temanku karena dia langsung menarikku kembali pulang ke rumah.”

Charlotte mengatakan kalau Spencer langsung memegang rambutnya agar Spencer bisa melihat wajahnya.

”Dia bilang kalau aku ini sudah jadi istrinya dan aku harus bersikap layaknya seorang istri. Setelah mengatakan itu, dia langsung menampar wajahku,” ujarnya.

Setelah melakukan itu, Spencer kembali ke tempat pesta, meninggalkan sang istri yang masih shock dan menahan rasa sakit akibat tamparannya. Hal itu ternyata menjadi awal mula rentetan kekerasan yang harus dirasakan Charlotte selama menjadi istrinya.

Charlotte bahkan masih ingat saat Spencer pernah memukul matanya bahkan sampai mencekiknya agar dia tidak teriak.

”Di satu tahun pernikahan kami, tubuhku malah sudah penuh bekas biru dan hitam akibat luka yang kudapat dari dirinya,” ujar Charlotte pilu.

”Aku selalu menghindar dari teman dan keluargaku karena tak ingin mereka mengetahui semua ini. Bahkan, aku sendiri merasa malu sudah menjadi istri yang sering disiksa suaminya.”

Pada kesempatan lainnya, Spencer sempat mengatakan kepada Charlotte kalau ia ingin punya anak. Takut dengan sifat temperamental Spencer, Charlotte sampai berpura-pura kalau ia tak lagi mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Ia bahkan menyembunyikan tabel kesuburan dari Spencer. Namun, Spencer pun mengetahui hal ini dan akhirnya membuang semua pil kontrasepsi milik Charlotte.

”Tak lama setelah itu, aku sering diperkosa olehnya karena ia ingin jadi seorang ayah. Tak lama aku pun hamil putra kedua,” ujarnya.

”Aku masih ingat saat dimana aku melihat ada garis biru di test pack. Aku sempat merasa kalau Spencer pasti akan bahagia dan tak lagi menyiksaku. Tapi yang paling kutakutkan adalah saat dimana aku harus membawa satu anak lagi ke dalam kehidupanku yang sudah rusak ini. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi,” ujarnya.

Kekejaman Spencer kepada istrinya akhirnya sampai pada akhirnya, saat ia bercerita bohong kalau dirinya menggunting pakaian dalam Charlotte dan menggunakannya sebagai tisu toilet dengan alasan Charlotte lupa membeli tisu toilet.

”Aku langsung naik ke atas untuk menenangkan diri. Aku duduk sambil memegang buku dan pena. Aku menulis semua hal yang sudah Spencer lakukan kepadaku selama ini,” ujarnya.

”Saat terakhir dia memukulku, beberapa minggunya aku langsung menelepon polisi dan memberikan tulisanku kepada mereka. Polisi mengatakan kalau aku harus membuat laporan dan akhirnya keberanian itu pun muncul.”

Pada persidangan, Spencer dinyatakan bersalah atas dua tuntutan pemerkosaan, dua tuntutan penyerangan biasa dan tiga tuntutan atas penyerangan yang menyebabkan luka pada tubuh.

Spencer divonis 14 tahun penjara oleh Pengadilan Northampton Crown Court, sembilan tahun dalam masa tahanan dan masa perpanjangan lisensi lima tahun.

Selama persidangan, mantan suami pertama Charlotte, Jack, menjadi salah satu sosok yang memberinya semangat. Jack juga ada di sisi Charlotte sat ia melahirkan anak dari Spencer dua bulan kemudian. Kedua pasangan yang pernah menikah ini akhirnya memutuskan untuk mencoba merajut kembali hubungan rumah tangga mereka.

Charlotte mengatakan: ”Kedua putraku menyayanginya dan akhirnya aku sadar apa itu makna dari kebahagiaan sesungguhnya.”

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here