Home Muslimah Cerita Perjuangan 2 Mahasiswi Yang Dibully Gegara Berhijab di Amerika Serikat

Cerita Perjuangan 2 Mahasiswi Yang Dibully Gegara Berhijab di Amerika Serikat

221
0
SHARE

Menjadi seorang muslimah berhijab di negara minoritas Muslim seperti Amerika Serikat bisa dibilang sulit. Banyak orang di Negeri Paman Sam akan menganggap mereka aneh dan selalu memerhatikan pakaian wanita berhijab dari atas ke bawah hingga sebaliknya.

Hal tersebut dialami oleh dua mahasiswi Muslim dari University of Albany bernama Aleyna Nur Sarap dan Fatimah Ikram. Mereka kerap mendapatkan komentar negatif tentang jilbabnya dari masyarakat sekitar. Sekalipun, fashion hijab kini tengah berkembang menjadi modest fashion dan selalu tersorot media internasional selama beberapa tahun terakhir.

Aleyna Nur Sarap mengatakan, rekan sekelasnya sering membuat komentar negatif tentang jilbabnya saat dia masih muda dan ketika pertama kali pindah ke Amerika Serikat. Dia melihat bahwa banyak orang di kotanya tidak tahu tentang jilbab. Tak hanya komentar negatif, Sarap juga sering diperhatikan dengan tatapan tidak nyaman. “Mereka melihat sesuatu yang berbeda,” ujarnya.

Namun, dengan pemberitaan di sejumlah media lokal dan asing tentang wanita berhijab dan Muslim setidaknya mampu mengurangi jumlah komentar negatif secara signifikan selama bertahun-tahun. “Saya merasa menjadi lebih baik karena banyaknya perhatian yang telah kami dapatkan di media,” tambah Aleyna.

Sebelum pindah ke Amerika Serikat, Aleyna tinggal di Istanbul dimana pakaian yang dikenakan itu benar-benar penting. “Di Istanbul, sangat penting apa yang Anda kenakan di luar,” ujarnya seperti dilansir dari ASP, Kamis (05/10).

“Anda harus terlihat manis, harus menggunakan makeup, dan harus memakai pakaian bagus. Anda tidak bisa memakai piyama di luar, Ini sama sekali tidak bisa diterima,” katanya.

Setiap hari, Aleyna memastikan tampil se-fashionable mungkin, yang tentu saja termasuk jilbab yang serasi. “Saya punya jilbab yang cocok dengan setiap pakaian. Ini seperti sekarat rambut saya setiap hari.” kata Sarap.

Pengalaman serupa juga dialami mahasiswi junior University of Albany Fatimah Ikram. Menurutnya, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dan berlawanan terhadap kelompok tertentu. Misalnya, larangan hijab dan penindasan Muslim di bandara. “Saya merasa bahwa ini semua tentang perspektif,” ujarnya.

Ikram mengatakan, Islam adalah agama pertama yang memberi hak kepada perempuan untuk dapat memilih apakah ingin mengenakan jilbab atau tidak. Bila seseorang tidak ingin mengenakan hijab, maka bisa melepaskannya atau tidak menggunakannya. Sehingga, mereka tidak akan dihukum atau ditindas oleh pemerintahan Presiden Donald Trump yang menentangnya. “Tapi, memakai hijab itu berasal dari hati,” katanya.

Terlepas dari iklim politik dan sosial saat ini, dia memiliki pandangan positif tentang kehidupannya dan  dunia di sekitarnya. “Saya bisa melihat semua hal negatif dan semua kejadian di mana orang melihat saya. Tapi, saya juga melihat semua dukungan yang telah terjadi dari mereka yang mendukung hijab,” tutup Ikram. (Hls/Ram)

sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here