Home Kajian Islam Hukum Memperlama Sujud Terakhir Dalam Sholat

Hukum Memperlama Sujud Terakhir Dalam Sholat

170
0
SHARE

Assyaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin Rahimahullah ditanya seputar memperlama sujud akhir berbeda lamanya dengan rukun-rukun sholat yang lain untuk berdoa dan beristighfar. Apakah memperlama sujud akhir sebagai cela dalam shalat?

Beliau rahimahullah menjawab:

Memperlama pada sujud akhir bukan termasuk sunnah, karena yang sunnah adalah perbuatan – perbuatan shalat itu ada kemiripan( pada lama dan singkatnya ) pada : ruku, mengangkat darinya, sujud dan duduk antara dua sujud, seperti yang di terangkan Al-Barra bin Azib radiyallahu’anhu:

“Aku memperhatikan sholat yang aku lakukan bersama Nabi shallahualaihi wasallam, aku dapati berdiri, ruku, sujud dan duduknya antara salam dan selesainya hampir sama (lamanya)”.

Inilah yang afdol namun ada kesempatan  berdoa di selain sujud, yaitu ketika tasyahhud. Karena Nabi shallahualaihi wasallam ketika mengajari bacaan tasyahhud kepada Abdullah bin Masud, beliau bersabda setelahnya: “lantas hendaklah seorang yang shalat memilih doa yang dia inginkan”.

Maka silahkan mau berdoa sedikit atau banyak lakukan setelah tasyahhud akhir sebelum salam “.

Hukum Memanjangkan Sujud Terakhir di Rakaat Terakhir

Asy-Syaikh Ibnu Baaz -rahimahullah- berkata:

“Kami tidak mengetahui adanya dalil yang mensyariatkan sujud terakhir lebih lama (dibandingkan yang lainnya), justru sunnah mengajarkan agar sujud terakhir seukuran sujud-sujud yang lainnya, dan tidak memperpanjangnya untuk manusia (makmum).

Namun hendaknya semua sujud dilakukan dengan waktu sedang dan mirip-mirip lamanya. Hal itu berlaku pula pada ruku’nya. Dan di saat berdiri seseorang memanjangkan raka’at pertama dan kedua. Sedangkan untuk sujud dengan waktu yang cukupan dan tidak memanjangkannya sehingga merugikan makmum.

Demikian pula di rakaat ketiga dan keempat di sholat dhuhur, ashar dan isya’, dia membaca Al-Fatihah kemudian ruku’ yang lamanya sedang, tidak terlalu panjang. Kemudian i’tidal yang lamanya sedang, tidak memanjangkannya untuk makmum.

Demikian pula sujudnya, semua panjangnya sama dan hendaknya dilakukan dengan tuma’ninah dengan lama cukupan dan tidak tergesa-gesa, dan tidak mengkhususkan sujud terakhir dengan lama waktu melebihi sujud lainnya karena TIDAK ADANYA DALIL yang memerintahkannya.

Hanyasanya yang diperintahkan adalah TUMA’NINAH dan TIDAK TERGESA-GESA dalam mengerjakan seluruh amalan sholat.

Hendaknya ketika berdiri, dia khusyu’ membaca ayat dan tidak tergesa-gesa. Hendaknya ketika ruku’, dia khusyu’ dan tidak tergesa-gesa. Hendaknya ketika i’tidal setelah ruku’, dia tuma’ninah dan tidak tergesa-gesa.

Demikian pula yang dilakukan dalam sujud dan diantara dua sujud. Hendaknya ia jadikan (lama waktu) dalam sholatnya mirip-mirip (seimbang) sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi -‘alaihish-sholaatu wassalaam.”

قال الشيخ ابن باز رحمه الله :

لا نعلم دليلاً يدل على شرعية إطالة السجود الأخير، بل السنة أن يكون مثل بقية السجدات لا يطيل على الناس، بل تكون سجداته معتدلة متقاربة، وهكذا ركوعه، وهكذا قيامه يطيل في الأولى والثانية، ويعتدل في السجود، ولا يطول على الناس تطويلاً يضر، وهكذا في الثالثة والرابعة من الظهر والعصر والعشاء يقرأ الفاتحة ويركع ركوعاً معتدلاً ليس فيه طول كثير، ويعتدل اعتدال ليس في طول على الناس، وهكذا السجود كله سواء، يكون فيه طمأنينة واعتدال وعدم عجلة لكن لا يخص السجدة الأخيرة بمزيد الطول، لعدم الدليل على ذلك، إنما هو مأمور بالطمأنينة وعدم العجلة، في جميع صلاته في قيامه يخشع في القراءة ولا يعجل، وفي ركوعه يخشع ولا يعجل، واعتداله بعد الركوع يطمئن ولا يعجل، وهكذا في السجود وهكذا بين السجدتين، وتكون صلاته متقاربة كما فعل النبي عليه الصلاة والسلام.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here