Home Parenting Inilah Dampak Negatif yang Terjadi Jika Orang Tua Suka Memukul Anak, Astaghfirullah

Inilah Dampak Negatif yang Terjadi Jika Orang Tua Suka Memukul Anak, Astaghfirullah

115
0
SHARE

Memukul anak adalah sebagai cara yang paling tepat untuk menghukum anak, apakah benar? Salah besar. Penelitian telah menunjukkan adanya efek negatif dari hukuman fisik pada anak-anak.

Sebuah studi tahun 2012 menyoroti banyak konsekuensi berbahaya dari memukul anak, dan dengan jelas mengidentifikasi bahwa hukuman fisik hanya memiliki satu hasil positif, yaitu kepatuhan langsung jangka pendek.

Sedangkan, efek negatif yang dihasilkan terdiri dari kerugian neurologis, fisik, perilaku, kognitif, emosional, dan indikator pembangunan sosial.

Sebuah makalah tahun 2012 yang berisi hasil penelitian hukuman fisik selama dua dekade dari seluruh dunia menunjukkan bahwa:

  • Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa hukuman fisik meningkatkan risiko hasil perkembangan anak secara negatif yang luas dan abadi, sementara tidak ada penelitian yang menemukan bahwa hukuman fisik meningkatkan kesehatan perkembangan anak.
  • Sebagian besar kekerasan fisik anak terjadi dalam konteks hukuman.
  • Sebuah konsensus profesional menyatakan bahwa orangtua harus didukung untuk tidak melakukan kekerasan pada anak dan untuk melakukan pendekatan yang efektif untuk mendisiplinkan anak.

Efek Negatif Memukul Anak

1. Anak jadi agresif
Memukul anak merupakan model hukuman agresi untuk anak. Menurut Lynn Namka, EdD., memukul anak menimbulkan lebih banyak agresi pada anak, bahkan meskipun pada awalnya hal itu dilakukan untuk menghentikan perilaku tersebut.

Anak-anak tidak selalu bisa memahami perbedaan antara agresi fisik yang tidak diperbolehkan (seperti memukul dan mendorong), dan agresi fisik yang mereka terima sebagai hukuman.

Menurut American Academy of Pediatrics, hukuman fisik dapat menyebabkan peningkatan agresi untuk anak-anak di sekolah.

2. Anak lebih mungkin penganiayaan fisik
Remaja yang menerima hukuman fisik, akan tiga kali lipat lebih mungkin untuk menganiaya anaknya sendiri ketika dewasa, menurut Murray A. Straus, pemimpin survey “Corporal Punishment by American Parents” pada tahun 1999.

Penelitian oleh Straus menemukan bahwa hanya 7% remaja yang tidak pernah dipukul melakukan penganiayaan fisik ketika dewasa, sedangkan sebanyak 24% remaja yang pernah dianiaya secara fisik sebelumnya melakukan penganiayaan fisik terhadap anak mereka.

Memukul akan mengajarkan anak-anak bahwa menyakiti orang diperbolehkan, dan ini dapat menyebabkan mereka percaya bahwa cara memecahkan masalah adalah dengan memukul.

Menurut Ask Dr Sears, anak-anak akan terus berpikir seperti itu hingga dewasa nanti, sehingga menyebabkan mereka untuk memukul anak atau pasangan mereka.

3. Gangguan perkembangan kognitif
Memukul anak memiliki dampak negatif pada perkembangan kognitif. Sebuah studi tahun 1998 oleh Murray A. Straus dan Mallie J. Paschall, yang berjudul “Corporal Punishment by Mothers and Child’s Cognitive Development,” mengungkapkan bahwa anak-anak yang dipukul kurang mampu untuk bersaing dengan tingkat perkembangan kognitif yang diharapkan sesuai usia mereka. Hal ini bahkan dapat menurunkan IQ mereka, catat Psychology Today.

Memukul anak dapat mengurangi gray matter (jaringan penghubung abu-abu pada otak), yang merupakan bagian penting untuk kemampuan belajar anak.

4. Gangguan perkembangan emosional
Anak-anak yang secara fisik dihukum dapat terganggu secara emosional. Anak-anak yang secara fisik atau verbal dilecehkan lebih mungkin untuk menunjukkan gangguan psikologis, menurut Ask Dr Sears.

Selain itu,  U.S. Department of Health and Human Service menyatakan bahwa, memukul anak dianggap sebagai pelecehan fisik dan dapat membuat anak menjadi rendah diri, mengalami kerusakan otak, gangguan perhatian, dan juga penyalahgunaan zat.

Hal ini dapat menyebabkan kurangnya keterampilan sosial, kecemasan, dan depresi ketika anak-anak telah dewasa tanpa memandang status sosial ekonomi atau sejarah keluarga.

Stop Mendisiplinkan Anak Dengan Cara Memukul
Mendisiplinkan anak dengan memukul anak telah melampaui bentuk yang sebenarnya dari hukuman itu sendiri.

Hal itu juga menjelaskan sistem di mana anak-anak tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam disiplin mereka sendiri. Anak-anak harus memahami apa kesalahan mereka dan bagaimana mereka dapat menebus kesalahan.

Pada anak usia dini, otak berkembang lebih cepat daripada organ lain dalam tubuh. Hal ini membuat usia dini merupakan periode yang sangat sensitif dan sangat penting dalam perkembangan otak.

Tekanan yang disebabkan oleh rasa sakit dan ketakutan akan dipukul dapat mempengaruhi perkembangan dan fungsi otak anak, menghambat pertumbuhan alami otak, dan mengakibatkan kelainan seumur hidup dan permanen pada otak.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here