Home Kisah Nyata Innalillahi, Bocah 9 Tahun Terkubur Selama 17 Jam, Ditemukan dalam Kondisi Seperti...

Innalillahi, Bocah 9 Tahun Terkubur Selama 17 Jam, Ditemukan dalam Kondisi Seperti Ini

290
0
SHARE

Teriakan minta tolong kakak adik, Iprianto (20) dan Juwita (12), membelah gemuruh hujan, Kamis (9/10) pukul 19.00 WIB. Di malam gelap keduanya berlari-lari melewati jalan tanah licin meninggalkan rumah yang baru saja tertimbun longsoran bukit.

Ayah, ibu, dan tiga orang adiknya tak sempat menyelamatkan diri. Iprianto dan Juwita berlari minta bantuan ke rumah Sunarto, tetangga yang tinggal sekitar 200 meter dari rumahnya.

Seketika warga Desa Pulau Kemuning, Kecamatan Sungai Are, Kabupaten OKU Selatan diliputi suasana mencekam. Lima orang meninggal tertimbun.

Informasi dari Sunarto, di hari nahas itu hujan deras disertai angin kencang memang berlangsung lama, sejak Kamis (9/11) pukul 13.00 WIB hingga Jumat (10/11) pukul 04.00 WIB.

Pada siang hingga sore tidak terjadi apapun, namun menjelang malam, sekira pukul 19.00, dia mendengar suara gemuruh tanah longsor.

Sunarto kaget dan berusaha mencari tahu. Firasatnya semakin tidak enak setelah mendengar teriakan minta tolong. Namun saat itu hujan masih lebat. Sementara suasana gelap.

“Memang sempat terdengar juga suara Ipri dan Juwita, anak korban, meminta tolong, tapi kondisi masih hujan lebat,” katanya.

Sunarto mengatakan, Iprianto bin Riswandi (20) dan Juwita binti Riswandi (12) berhasil lolos dari maut karena masih sempat melarikan diri sebelum rumah habis tetimbun tanah longsor.

Kedua anak itu mendatangi rumah Sunarto sejarak 200 meter, memberitahukan kalau keluarganya tertimbun dan mereka berdua tidak mampu menolong.

Warga yang mengetahui hal itu, bersama tim Santri Tanggap Bencana (Santana), segera melakukan penggalian hingga sekitar Pukul 21.00 WIB ditemukan empat korban dengan lokasi yang berdekatan, yakni Riswandi (40) kepala keluarga, Susmita (30) istrinya, serta dua anaknya, Rifki (4) Angga (7).

Sedangkan satu orang anak lagi, Alex (9), tidak ditemukan di lokasi rumah tertimbun.

Pencarian terus dilakukan warga bersama Polisi dan TNI, sampai Jumat sekira pukul 13.00 WIB, atau setelah terkubur selama 17 jam, barulah Alex ditemukan di lokasi terpisah dalam kondisi sudah meninggal. Kepalanya terluka parah.

Pantauan di lapangan, perkampungan penduduk itu berada di perbukitan Dulang Sungai Are. Tampak terdapat puluhan titik longsor, yang salah satunya menimpa rumah Riswandi.

Posisi rumah berada di bawah tebing yang cukup tinggi. Saat hujan deras, tebing tersebut longsor dan menimbun rumah beserta penghuninya sehingga rumah rusak berat.

Lokasi longsor berada di daerah yang cukup sulit dijangkau. Kondisi masih hujan terus. Longsoran tanah merah berlumpur menimpa badan jalan di sembilan titik, sehingga melumpuhkan akses jalan.

Terdapat 100 keluarga tidak bisa keluar desa. Tim evakuasi dan warga harus berjalan kaki dari Desa Sadau menuju lokasi. BPBD OKU Selatan bersama TNI, Polri, SAR, Dinas Sosial, Dinas PU, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi korban.

Alat berat dikerahkan untuk mencari korban. BPBD Provinsi Sumatera Selatan memberikan bantuan logistik dan mendampingi BPBD OKUS.

Wakil Bupati OKUS Solehien Abuasir bersama jajaran, Ketua DPRD OKUS Yohana Yuda Yanti dan Ketua TP PKK OKUS Isyana Popo Ali ikut meninjau langsung ke lokasi longsor.

Kapolres OKU Selatan AKBP Ahmad Pardomuan SIK, MH melalui Kapolsek Pulau Beringin, Iptu Supit Widiarto di wawancara di lapangan membenarkan ada korban jiwa sebanyak lima orang.

“Korban yang meninggal sebelumnya satu di Desa Cukoh Nau, dan sekarang ada lima orang korban yang merupakan satu keluarga meninggal dunia di Kawasan Desa Pulau Kemuning,” jelas Supit.

Longsor juga menewaskan satu orang di Desa Cukoh Nau, Kecamatan Sungai Are, tak jauh dari Desa Pulau Kemuning. Dua orang luka-luka. Longsor di desa ini terjadi pukul 17.00.

Korban meninggal Hatam bin Agusman (70), sementara istrinya seorang perempuan berusia 65 tahun ditemukan dalam kondisi luka parah. Satu korban terluka lainnya, Zulkardi (40).

Sekretaris Desa Cukoh Nau, Yanto pun membenarkan peristiwa tersebut. Kejadian ini mengakibatkan dua unit rumah penduduk rusak.

Sedangkan satu rumah hancur terkena hantaman material tanah. “Dua luka-luka dan satu meninggal dunia akibat kejadian ini,” ujarnya.

Lima Daerah Rawan

Memasuki musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel telah memetakan wilayah rawan tanah longsor dan potensi banjir di wilayah Provinsi Sumsel.

“Sudah kita petakan daerah-daerah yang rawan longsor di musim hujan di wilayah Sumsel. Terutama daerah yang mempunyai wilayah pegunungan dan bukit,” kata Plt Kepala BPBD Sumsel Iriansyah.

Menurutnya, ada lima daerah di Sumsel yang daerahnya rawan longsor di musim penghujan ini, yaitu Kota Pagaralam, Kabupaten Empatlawang, Lahat, Muaraenim dan OKU Selatan.

Sementara untuk daerah rawan banjir masih di daerah ulu sungai, yaitu Musi Rawas, Muratara, Muba, dan Banyuasin. Kemudian, Muaraenim, PALI, OKI, OI, dan Palembang.

“Dengan memetakan wilayah rawan longsor dan banjir, kita bisa menyusun rencana antisipasi seperti personil yang dikerahkan dan peralatan yang disiapkan,” katanya.

Iriansyah mencontohkan wilayah di OKU Selatan salah satu daerah yang merupakan wilayah perbukitan dengan kontur yang buruk, sehingga rentan terjadi bencana longsor.

Mengantisipasi bencana tersebut, BPBD Sumsel telah meminta BPBD kabupaten/kota yang daerahnya rawan bencana di musim hujan ini, untuk siap dan siagakan personel, serta peralatan yang dibutuhkan jika terjadi bencana, di antaranya perahu karet, pelampung, tenda, peralatan makanan, makanan siap saji, dan lainnya.

“BPBD kabupaten/kota sudah diminta siaga, baik sarana maupun prasarana, termasuk alat berat kami sudah koordinasi dengan pihak PU dan Dinsos di daerah.

Termasuk BPBD Sumsel, jika di daerah dirasa perlu dibantu akan kami gerakkan personel maupun peralatan,” katanya.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here