Home Kisah Kisah Haru Guru Ngaji yang Lumpuh Namun Tetap Mengajar dari Tempat Tidur,...

Kisah Haru Guru Ngaji yang Lumpuh Namun Tetap Mengajar dari Tempat Tidur, Ini Videonya

151
0
SHARE

Belasan anak kecil berbondong-bondong menuju rumah mungil bercat putih sederhana itu. Mereka lantas masuk ke kamar Sugiarto (39). Di dalam kamar itu, mereka mengaji dengan bimbingan Sugiarto yang terbaring di tempat tidur, di Dukuh Pucung, Desa Karangbawang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas.

Apa yang dilakukan Sugiarto ini mengharukan. Ia tetap mengajar ngaji anak-anak tetangganya meski sejak 17 tahun lalu tubuhnya lumpuh akibat tertabrak bus sepulang mengaji dari Pondok Pesantren di Cilongok.

Sugiarto bertutur, waktu itu dia sudah memiliki beberapa santri. Akibat kecelakaan itu, empat bulan lebih aktivitas mengajinya berhenti total. Namun setelah itu, ia pun kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa, meski dari tempat tidur.

“Pesan guru saya, jangan berhenti berbuat kebaikan. Karena saya hanya bisa mengajar mengaji sedikit-sedikit, maka saya mengajar ngaji meskipun harus dilakukan dengan kondisi seperti ini,” kata Sugiarto, ketika ditemui di kamarnya, Selasa sore, 8 Agustus 2017.

Sugiarto tampak tegar. Tak tampak sedikit pun raut memelas di wajahnya. Karena bagi dia, takdir adalah sesuatu yang mutlak. Dia bisa menerima nasib yang membuatnya harus menjalani peran sebagai guru ngaji yang mengajar dari tempat tidur.

“Tidak ada kesulitan. Saya tetap bisa mengajar mengaji sebisa saya,” katanya, mantap.

Sore itu, anak-anak terlihat penuh semangat. Apalagi, ada seorang tamu yang kebetulan berjanji membelikan bakso keliling seusai mereka mengaji. Mereka tak tampak canggung ketika duduk untuk membaca Alquran.

Anak yang masih belajar mengaji Iqro, akan berdiri dan mendekat ke Sugiarto. Posisi Iqro didekatkan sedemikian rupa sehingga Sugiarto bisa membimbing langsung dengan tuding yang terbuat dari bilah bambu kecil.

Adapun yang sudah membaca Alquran dengan lancar, maka ia membacakan surah dan ayat yang akan dibacanya, beserta halaman di Alquran. Setelah menunggu sebentar, Sugiarto pun mencari surah dan ayat dimaksud di halaman yang disebut.

“Surat Al Anbiya ayat 7 sampai 11,” kata seorang anak, tegas.

Lantas, si anak yang sudah tartil itu membaca. Adapun Sugiarto, menyimaknya dengan seksama dari tempat tidurnya, dengan Alquran yang dia pegang dengan kedua tangannya, serupa dengan orang membaca buku sembari tiduran.

Sang Ibu yang Rapuh

Berbeda dengan Sugiarto yang terlihat tegar, sang Ibu, Tisem nampak sedih. Perempuan berusia 60 tahun itu bercerita Sugiarto telah berobat ke sana kemari, berpindah rumah sakit dan dokter. Pengobatan alternatif juga telah dilakukan, namun, tak kunjung sembuh.

“Tidak ada BPJS. Bantuan dari pemerintah juga tidak ada. Kami sudah kehabisan biaya untuk berobat,” tutur Tisem. Beberapa kali dia menyeka air mata yang meleleh di kelopak matanya yang keriput.

Tisem berujar, begitu tahu suaminya lumpuh, istri Sugiarto menggugat cerai. Anak semata wayang Sugiarto pun dibawa sang istri.

Sugiarto juga tak menerapkan iuran mengaji, sepeser pun. Hanya saja, kadang ada orang tua santrinya yang membawakan makanan kecil. Kadang talas rebus, pisang, atau roti.

“Tidak pernah ada iuran. Paling kadang-kadang saya membawakan makanan. Entah pisang atau apa, hasil kebun,” ucap Jolastri, seorang ibu yang mengantar anaknya mengaji di rumah Sugiarto.

Jolastri mengatakan, anaknya menjadi murid Sugiarto sejak berumur empat tahun. Dan kini, sudah kelas 4 sekolah dasar. Kira-kira, anaknya itu, Fahrul Nurudin, sudah mengaji tujuh tahun di tempat ini.

“Guru ngaji yang lain juga ada. Tapi saya milih di sini saja. Selain dekat juga cocok,” kata Jolastari.

Sugiarto berharap apa yang dilakukannya berguna untuk masyarakat. Impiannya hanya satu, berbuat baik dengan mengajar mengaji hingga ajal menjemput.

“Saya berharap agar bisa mengajar mengaji, sampai Allah berkehendak. Sampai Allah memanggil,” ucapnya.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here