Home Kisah Nyata Kisah Ibu Hamil yang Mengaku Ngidam Naik Gunung Saat Hamil 6 Bulan

Kisah Ibu Hamil yang Mengaku Ngidam Naik Gunung Saat Hamil 6 Bulan

103
0
SHARE

Ngidam merupakan hal yang biasa dialami ibu hamil. Kadang ibu hamil mengingkan makanan, atau hal lainnya yang lebih ekstrem. Ngidam yang ekstrem bisa berbagai macam hal. Padahal Gunung Rinjani ini gunung tertinggi ketiga di Indonesia yang mempunyai ketinggian 3726 MDPL.

Dengan kondisi tidak hamil saja butuh berbagai persiapan untuk mendaki gunung yang ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ibu hamil tersebut adalah Ika Afrianita yang meminta pada suaminya untuk muncak ke Gunung Rinjani.

Akhirnya sang suami, Muhamad Reza Indrabudi atau yang biasa dipanggil Reza mengizinkan sang istri dengan beberapa persiapan matang. Reza membagikan pengalamannya menuruti keinginan ngidam sang istri melalui akun Instagram @mountnesia.

Caption yang dituliskan cukup panjang untuk menjelaskan perjuangannya mendaki bersama sang istri yang sedang hamil 6 bulan. TribunStyle.com rangkum perjalanan suami istri yang mendaki Gunung Rinjani bersama calon anaknya.

1. Persiapannya banyak

Dikutip dari caption postingan diatas ini dia persiapan yang dilakukan Reza “Persiapan yang saya dan istri lakukan rutin cek kandungan ke Bidan untuk tau kesehatan kandungannya, Logistik kami usahakan yg bergizi (bukan instan), & vitamin, bahkan untuk tidur pun kami membawa Kasur & bantal angin lengkap dengan kompa nya.”

2. Tidak hanya berdua

Dalam pendakian gunung Rinjani, pasangan suami istri ini mengajak 4 orang lainnya dan beberapa porter pada tanggal 22 Oktober.

3. Sempat kehabisan Air

Keesokan harinya setelah sarapan mereka melanjutkkan trek perjalanan namun kehabisan air, sesuai denagn caption yang ditulis @mountnesia “Setelah itu kami menuju Plawangan melewati bukit penyesalan, di tambah lagi di​ ​Bukit​ ​Penyesalan​ ​kami kehabisan air, tapi beruntung kami diberi air oleh porter yg melintas & pendaki2 lain untuk istri​ ​saya yg sedang hamil.”

4. Ika selalu berjalan sambil memegang perutnya

Karena kondisinya yang hamil Ika harus memegangi perutnya agar tidak terkena guncangan.

5. Sempat terguyur hujan lebat

Dari caption @mountnesia yang mengatakan mereka terjebak huajn dis ekitar Bukit Penyesalan “tak lama kemudaian kami di guyur hujan lebat di sekitar Bukit Penyesalan, air hujannya seperti air es, kami hanya berteduh mengunakan jas hujan dan plastik sampah yang kami kibarkan di atas kepala. Semua menggigil kedinginan, kami tidak bisa mendirikan tenda di Bukit ini karena kemiringan & tempat yang tidak memadai, di benak saya hanya kecemasan melihat istri dan calon anak saya, kita di tengah hutan dan hujan lebat.”

6. Tapi Ika tidak ikut Summit ke Puncak Rinjani

A post shared by Ika Afrianita (@ika.afrianita) on

Dengan berbagai pertimbangan dan trek yang dilalui sangat tidak memungkinkan untuk wanita hamil, dan akan membahayakan sang ibu dan bayi maka Ika tidak ikut summit dan hanya puas denagn menunggu suami di Segara Anak.

7. Saat turun Ika sempat terjatuh

Setelah bermalam di Segara Anak mereka turun dengan melalui jalur Senaru dengan alasan waktu yang lebih singkat meski porter sudah menagtakan kalau jalur tersebut sangat terjal.

Banyak yang membantu, bahakan seorang perempuan ikut menuntun Ika yang sempat terjatuh “Seseorang perempuan yg mau menuntun istri saya jalan setelah sempat terjatuh di terjal bebatuan. Kejadian yg membuat semua panic kerena istri saya terjatuh. Alhamdulilah tidak terjadi hal yg serius.” Untung tidak terjadi apa-apa pada ibu dan kandungannya.

8. 15 jam berjalan

Setelah melewati jalan yang terjal akhirnya mereka berhasil keluar pintu Senaru pada pukul 23.15 WITA.

“Akhirnya kami bersama turun di gelap malam & dinginnya hutan Senaru. Dan akhirnya dengan terseok seok & punggung yang sudah sangat pegal, Alhamdulillah kami ber 4 berhasil keluar pintu Senaru pukul 23:15 WITA. Hampir 15 jam kami berjalan.”

9. Tetap rendah hati

Di akhir captionya Reza menuliskan hal yang membuatnya tampak rendah ahti walaupun berhasil membawa istrinya mendaki Gunung Rinjani.

“Keberhasilan kami bukan tolak ukur untuk pendaki wanita yang sedang hamil. Keberhasilan kami pun tidak lepas dari bantuan orang banyak yg menolong kami. Saran saya jangan nekat melakukan pendakian dengan keadaan hamil. Semua harus di persiapkan matang2 jika memang nekat ngidam ingin mendaki. Dari kesehatan, konsultasi ke Bidan, logistic yg bergizi dan mencukupi, sampai alas tidur yang nyaman untuk ibu hamil bukan sekedar tanah beralas matras. Dan sebagai suami saya kebagian carrier berat penuh isi hahahaha.”

“Terima Kasih untuk semua yang sudah membantu kami di pendakian Gunung Rinjani tanggal 22-27 Oktober 2017… See You Next Trip…”

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here