Home Kisah Kisah Seorang Dokter yang Tak Bisa Temani Ayahnya di Akhir Hayat Karena...

Kisah Seorang Dokter yang Tak Bisa Temani Ayahnya di Akhir Hayat Karena Selamatkan Pasien Sekarat

173
0
SHARE

Ketika masih kecil, apakah anda pernah punya mimpi atau cita-cita menjadi seorang dokter? Kalau ya, maka anda tidak sendirian. Faktanya, sebagian besar anak-anak ternyata mengidolakan sosok seorang dokter karena dianggap sebagai sosok pahlawan yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang dan menyembuhkan penyakit. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari kalau sebenarnya profesi dokter bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan.

Harus menjalani pendidikan di sekolah medis, melewati proses pelatihan yang panjang, serta keputusan kuat untuk melayani masyarakat membuat nasib seorang dokter sudah selayaknya diperhatikan. Seorang dokter tentunya sudah mengerti dan menerima tuntutan untuk menjalani pendidikan selama beberapa tahun lamanya karena mereka tahu kalau mereka nanti akan berurusan dengan nyawa manusia.

Hal ini membuat seorang dokter kerap dijuluki sebagai ‘Pahlawan tanpa Suara’ atau ‘Silent Hero’, yang artinya orang yang sudah sangat berjasa namun tak menceritakannya kepada siapapun. Tidak hanya itu, seorang dokter nyatanya bisa sangat sibuk kapan saja. Hal ini jelas membuat mereka jarang memiliki waktu untuk bersama-sama dengan keluarnya. Terlebih saat kondisi gawat sedang membutuhkan bantuan mereka.

Hal ini pula yang harus dialami seorang dokter bernama Zhang Xinzhi. Zhang adalah seorang dokter yang berasal dari Provinsi Anhui, China. Selama karirnya di dunia medis, Zhang sempat dihadapkan dalam sebuah kondisi yang mengharuskannya memilih salah satu. Pilihannya ini bahkan membuat namanya menjadi viral dan terkenal di dunia maya. Apa yang sebenarnya dilakukan Zhang?

Tak banyak yang tahu kalau sebenarnya Zhang masih punya seorang ayah. Namun sayang, sang ayah yang sangat dicintai Zhang ternyata sedang dalam kondisi kritis dan sekarat. Kondisi ini bahkan menjadi sebuah momen terakhir bagi Zhang jika ia ingin melihat sang ayah untuk terakhir kalinya. Namun pada saat yang bersamaan, Zhang ternyata harus menangani seorang pasien yang nyawanya juga sedang dalam bahaya. Dan hanya Zhang lah satu-satunya dokter yang bisa menyelamatkan nyawa pasiennya tersebut.

Pilihan ini jelas membuat Zhang bimbang bercampur sedih. Di satu sisi, dirinya ingin menjenguk sang ayah untuk terakhir kalinya, terlebih karena momen tersebut menjadi satu-satunya momen dimana Zhang bisa melihat sang ayah. Namun disisi lain, ada seorang pasien yang nyawanya sedang diujung tanduk dan sangat membutuhkan pertolongan dari Zhang. Bak mendengar petir di siang bolong, Zhang merasa berat karena tak bisa melakukan keduanya secara bersamaan.

Diringi perasaan sedih yang luar biasa, Zhang terpaksa harus memilih salah satu dari keduanya. Sebuah pilihan yang benar-benar sulit dan tak pernah dialaminya selama berkarir menjadi seorang dokter. Sebelum pergi untuk melakukan proses operasi pada pasiennya, Zhang memang sempat menemui ayahnya sebentar. Kepada sang ayah, Zhang mengaku kalau ada pasien yang sangat membutuhkannnya dan kehadirannya di ruang operasi sudah sangat ditunggu.

Tapi pada saat yang sama, dirinya ingin sekali menemani sang ayah. Mendengar ini, sang ayah yang sudah tua justru mengerti. Dengan sebuah senyuman di wajahnya, sang ayah mengangguk. Sebuah tanda jika ia mengizinkan putranya untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Dengan berat hati, Zhang pun berpamitan kepada sang ayah dan pergi menuju ke rumah sakit.

Sesampainya disana, Zhang langsung bersiap dan bergegas masuk ke ruang operasi. Namun ketika ia sedang berjuang menyelamatkan nyawa pasiennya, sebuah kabar menusuk sampai ke telinganya. Sang ayah ternyata sudah menghembuskan napas terakhirnya dan menghadap Yang Maha Kuasa. Dengan berurai air mata dan menahan rasa sedih yang begitu dalam dan menyayat, Zhang justru tak menghentikan operasinya. Ia terus menyelesaikan operasi sampai selesai.

Bahkan, setelah berjuang cukup lama, Zhang akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya. Walaupun begitu, Zhang tak bisa menutupi kesedihannya karena ia tak bisa melihat sang ayah di akhir hayatnya. Zhang, yang sudah menjadi dokter selama 33 tahun sempat mengatakan:

“Pada hari itu, hatiku benar-benar hancur dan sedih karena tak bisa mendampingi ayahku di saat-saat terakhirnya. Aku merasa sangat bersalah tak bisa melihatnya saat itu. Tapi aku adalah seorang dokter, dan menyelamatkan nyawa pasienku juga sama pentingnya bagiku.”

Keputusan Zhang memang bukanlah keputusan yang mudah. Namun hal ini nyatanya sampai ke telinga netizen. Tidak sedikit yang justru merasa bangga dengan Zhang karena rela melakukan hal tersebut. Beberapa bahkan yakin kalau sang ayah pasti merasa sangat bangga dengan putranya, meski kini sudah tiada.

“Meski aku menyesal, aku yakin ayahku mengerti dan mendukung keputusanku ini. Aku yakin dia tahu kalau aku bukan hanya putranya saja, tapi aku juga punya tanggung jawab sebagai seorang dokter,” ujar Zhang mengakhiri wawancaranya dengan awak media, seperti dilansir dari Viral 4 Real.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here