Home Kisah Lokasi Banjir di Zaman Nabi Nuh Menurut Al-Qur’an dan Sains

Lokasi Banjir di Zaman Nabi Nuh Menurut Al-Qur’an dan Sains

147
0
SHARE

Alquran menceritakan banjir terbesar sepanjang sejarah manusia yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Banjir tersebut menenggelamkan dan menghapus semua peradaban manusia saat itu.

Dalam buku Tafsir Ilmi ‘Air dalam perspektif Alquran dan Sains’ yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap mengenai bencana akibat air.

Besarnya banjir Nabi Nuh dilukiskan dengan tergenangnya permukaan Bumi dan tenggelamnya gunung-bunung yang berlangsung dalam waktu yang lama. Banjir itu muncul dari air yang jatuh dari langit maupun yang memancar dari dalam Bumi.

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,” Surah Al-Qamar Ayat 11-13.

Para ahli pengetahuan alam saat ini masih sulit menerangkan asal-muasal air tersebut. Sebagian orang, terutama yang merujuk pada Injil dan kitab Perjanjian Baru, menafsirkan bahwa banjir Nabi Nuh tersebut menggenangi seluruh permukaan Bumi.

Sedangkan sebagian lainnya (misalnya Harun Yahya) percaya bahwa hanya sebagian permukaan Bumi saja yang tergenang banjir.

Sebagian permukaan Bumi itu yakni daerah yang sudah dihuni manusia, yaitu di daerah Timur Tengah.

Meskipun hanya sebagian permukaan Bumi yang tergenang banjir pada saat itu, tetapi luas, kedalaman dan lamanya banjir melukiskan air yang sangat besar yang sulit diterangkan darimana datangnya air.

“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera,” Surah Al-Haqqah Ayat 11.

Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap spesies, jantan dan betina, serta keluarganya.

Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air, termasuk anak laki-laki Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan mengungsi ke sebuah gunung yang dekat.

Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir tersebut, dan kejadian telah berakhir, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Alquran.

“Dan difirmankan: “Hai Bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim,” Surah Hud Ayat 44.

Studi arkeologis, geologis dan historis menunjukkan bahwa banjir tersebut terjadi dengan cara yang sangat mirip dan berkaitan dengan informasi Alquran.

Banjir tersebut juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas peradaban-peradaban masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat bervariasi.

Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi. Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah.

Lagi pula, dengan posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan untuk terjadinya sebuah banjir yang besar.

Di antara faktor penyebab terjadinya banjir kemungkinan adalah meluapnya aliran kedua sungai ini, sehingga membanjiri wilayah tersebut. Bukit Judi yang disebutkan pada ayat di atas terletak di Armenia.

Tampak bahwa banjir pada zaman Nabi Nuh tersebut meliputi daerah yang membentang dari Armenia hingga Iran-Irak.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here