Home Pernikahan Merasa Terbebani Karena Suami Menganggur? Ini Solusinya

Merasa Terbebani Karena Suami Menganggur? Ini Solusinya

153
0
SHARE

Assalamu’alaikum

Ummi, saya baru menikah selama dua tahun dan belum dikaruniai putra. Sudah sejak awal 2009 ini suami saya menganggur. Sebelumnya suami bekerja di sebuah instansi pemerintah sebagai tenaga honorer dengan penghasilan yang minim.

Saya sendiri sejak sebelum menikah sudah bekerja dan punya penghasilan yang mapan. Dari hasil kerja, saya bisa membeli rumah, sepeda motor, bahkan menutupi kebutuhan sehari-hari karena penghasilan suami sangat kurang.

Kondisi ekonomi keluarga suami juga pas-pasan dan selama ini ditanggung suami saya. Setelah suami mengganggur, dana dari suami otomatis terhenti. Karena tak tega, saya kadang memberi mereka uang, walau mereka menerimanya dengan tak enak hati. Dengan keadaan suami yang mengganggur, saya merasa tanggung jawab dan beban yang ditimpakan kepada saya begitu berat.

Pertanyaan saya:

  1. Karena suami tidak memberi nafkah, bolehkah saya menolak “permintaan” suami? Ini saya lakukan sebagai teguran baginya agar mau berusaha.
  2. Bagaimana mengajak suami agar rajin shalat? Selama ini dia susah sekali diajak shalat.
  3. Sejak bekerja sampai menganggur, suami juga tak mau bergaul dengan masyarakat sekitar kami. Lalu bagaimana memberi pengertian padanya agar mau bergaul?

Ummi, mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum

Ratna, Tangerang

Jawaban Syariah

Nanda Ratna yang Ummi sayangi, suami dalam rumah tangga adalah pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. 4:34), maksudnya adalah sebagai pemimpin terhadap istri dan keluarganya dalam pengajaran, pengaturan, penjagaan, pemeliharaan dan yang memegang kendali keluarga. Di pundaknya tanggung jawab memberikan nafkah kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Sementara, istri bertanggungjawab dalam melayani suami dan menjaga kehormatan dirinya serta harta suaminya.

Ummi turut prihatin atas keluarga Nanda, dengan kondisi penghasilan suami yang sangat minim. Nanda harus tabah dan tetap dalam kesabaran serta senantiasa berdoa kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar. Dalam kondisi bagaimanapun, sebagai seorang istri Nanda berkewajiban menaati dan melayani suami, sebagaimana dalam hadits Nabi saw, “Seandainya aku diperintahkan agar seseorang menyembah orang lain, maka niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk menyembah suaminya. Maka ketika ada permintaan dari suami, istri wajib memenuhinya kecuali dalam udzur yang dibenarkan dalam syariat atau ada penjelasan lain yang dapat diterima suami. Karena dalam sebuah hadits Nabi saw, “Jika suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian dia tidak mau menemui suaminya maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari.

Masalah suami yang tidak mampu memberikan nafkah, maka itu adalah tanggung jawab suami dan istri dapat menuntut hak-haknya. Allah Ta’ala berfirman, “.. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. 2:233). Dan hadits Nabi saw, “Kewajiban kalian (suami) atas mereka (istri) memberikan makanan dan pakaian dengan baik.” Jika nafkah ini tidak dapat dipenuhi oleh suami maka dapat dihitung sebagai hutang suami terhadap istri, dan istri pun dapat menuntutnya dengan mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Hal ini dapat berakibat kepada perceraian yang disebut dengan tafriq qadha’i. Karena suami telah mengikrarkan pada saat akad nikah dengan membaca shighat ta’liq, jika suami menelantarkan istri dengan tidak memberikan nafkah maka pengadilan berhak memerkarakannya sesuai pengaduan istri.

Namun Nanda, carilah solusi terbaik dalam memecahkan masalah perekonomian keluarga, dengan membantu suami agar dapat memberikan nafkah yang layak. Bantulah dengan mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, atau membantu mencarikan modal usaha untuk membangun usaha mandiri atau bermitra dengan pihak lain. Semoga ini dapat membangkitkan kembali jiwa mas’uliyyah (tanggung jawab) suami terhadap kewajiban memberikan nafkah kepada keluarga.

Ketidakmampuan untuk memberikan nafkah yang layak bagi keluarga mungkin memengaruhi mentalitas suami, sehingga menjadi minder dan tak mau bergaul, bahkan malas beribadah. Mulailah dengan berikhtiar seperti di atas, juga sertai dengan tawakal kepada Allah. Ajaklah suami untuk shalat bersama, dan mintalah untuk menjadi imam, ingatkan selalu untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala. Mulailah dari hal yang kecil yang dilakukan bersama-sama. Setelah itu, ajaklah untuk bersilaturrahim dengan tetangga dan sanak saudara.

Nanda tidak memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarga dan sanak famili Nanda, termasuk kepada mertua. Itu merupakan sedekah Nanda, dan sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah untuk kerabat terdekat. Berapa pun pemberian Nanda itu adalah sedekah dari Nanda, maka jangan merasa itu sebagai beban Nanda. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelapangan bagi keluarga Nanda.

Jawaban Psikologi

Nanda Ratna di Tangerang. Idealnya sebuah keluarga berdiri dengan tanggung jawab dan peran masing-masing orang yang terlibat di dalamnya. Seorang suami bekerja menafkahi istri dan anak-anaknya; sementara istri mengurus rumah tangga. Namun dalam kenyataannya ternyata tidak semua kondisi ideal tersebut dapat tercapai. Dalam kondisi demikian tentu diperlukan kerja sama dan saling pengertian satu sama lain, agar pernikahan dapat tetap berjalan dengan melaksanakan fungsi masing-masing.

Berkaitan dengan persoalan Nanda, maka saran-saran Ummi sebagai berikut:

  1. Kemampuan suami untuk menafkahi keluarga akan menumbuhkan perasaan self efficacy (perasaan mampu, merasa kompeten) pada diri seorang laki-laki sehingga pada akhirnya timbul self worth (merasa diri berharga dan dibutuhkan oleh orang lain). Karena itu meskipun saat ini belum mendapatkan pekerjaan yang layak, Nanda harus terus mendorong suami untuk mencari rizki yang halal –meski hasilnya tidak seberapa.
  2. Utarakan harapan dan dorongan tersebut secara halus dengan nada yang bijak. Jangan ”menghukum” suami dengan menolak permintaannya, karena justru hal tersebut akan memicu timbulnya masalah lain. Jadikanlah momen-momen kedekatan Nanda bersama suami untuk mengomunikasikan keinginan, harapan dan permintaan Nanda, sehingga suami akan lebih siap mendengar secara psikologis.
  3. Ajakan untuk melaksanakan shalat, tentunya dilakukan secara bijak. Sebelum perintah-perintah Allah dilaksanakan dengan penuh kesadaran, suami diharapkan telah memiliki pemahaman yang baik mengenai aqidah dan kewajiban seorang Muslim pada pencipta-Nya. Sering-seringlah mengajak suami berdiskusi, memberikan buku-buku bacaan ringan berisikan muatan ajaran Islam, atau jika memungkinkan mengajak suami menemui keluarga-keluarga Muslim yang harmonis dan terdapat di sekitar lingkungan nanda. Dengan contoh yang bersifat konkrit seperti ini, diharapkan tekadnya akan tergerak, tanpa merasa digurui.
  4. Mengajak suami untuk aktif bergaul ke luar rumah, menjadi sesuatu yang sulit bila suami ternyata tipikal orang yang cenderung pasif dan menyukai kesendirian. Namun hal tersebut bukannya tidak bisa diubah. Cobalah buat jadwal keluar rumah bersama, misalnya satu kali sepekan untuk ikut serta dalam kegaitan bersama tetangga di lingkungan rumah. Biarkan suami memilih tetangga/teman yang sesuai dengan dirinya dan beri kebebasan pada dirinya untuk menjalin relasi. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana suami merasa nyaman dengan lingkungan baru tersebut. Bila lama kelamaan suami sudah menunjukkan kemajuan, Nanda dapat mulai mendorong suami untuk terjun pada lingkungan yang lebih kompleks.
  5. Pemberian Nanda kepada keluarga suami, insya Allah merupakan amal shalih. Kedudukan mertua sama dengan kedudukan orang tua, keduanya harus kita hormati dan penuhi kebutuhannya sebisa mungkin. Insya Allah dengan keringanan langkah Nanda dan perhatian yang diberikan kepada keluarga besar akan menjadi pembuka jalan bagi terselesaikannya masalah Nanda.

Jawaban Hukum

Ananda Ratna, berbicara masalah hak dan kewajiban suami istri, pasal 30 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. Pada pasal 31 ayat (1)-nya disebutkan bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. Pasal 33 menyebutkan bahwa suami istri wajib saling cinta mencintai, menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain. Namun, pada pasal 34 ayat (1) disebutkan secara spesifik bahwa suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumahtangga sesuai dengan kemampuannya.

Kompilasi Hukum Islam tahun 1991 menyebutkan secara lebih spesifik bahwa kewajiban suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama (pasal 80 ayat 1). Kemudian suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya (pasal 8 ayat 2). Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa (pasal 80 ayat 3). Kemudian, khusus mengenai tanggung jawab suami terhadap nafkah keluarga disebutkan pada pasal 80 ayat (4) sebagai berikut:

Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung:

    1. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri.
    2. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.
    3. Biaya pendidikan bagi anak.

Namun, istri dapat membebaskan suami dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b (vide pasal 80 ayat 6 Kompilasi Hukum Islam 1991).

Maka, berdasarkan dasar-dasar hukum di atas, memang kewajiban utama melindungi dan mencari nafkah untuk istri dan anak-anak terletak pada pundak suami. Namun seyogyanya, kendati tidak diwajibkan, pihak istri juga dapat membantu untuk meringankan tanggung jawab suami ketika hal itu dimungkinkan dan istri memiliki kesempatan ke arah tersebut.

Ummi menyarankan, sebaiknya Nanda tetap taat kepada suami selama suami taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Barangkali cara terbaik untuk mengingatkan suami akan kewajibannya bukanlah dengan menolak permintaannya–apalagi  ketika permintaan tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah swt dan Rasul-Nya–tapi dengan berdialog dan berkomunikasi dengan baik dan penuh kesabaran dilandasi dengan cinta kasih dan saling mendukung. Karena seperti tersurat pada pasal 30 UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here