Home Kisah Nyata Mulut Jenazah Pria ini Tak Henti Keluarkan Darah, Ternyata Saat Hidup Rutin...

Mulut Jenazah Pria ini Tak Henti Keluarkan Darah, Ternyata Saat Hidup Rutin Lakukan ini … Astaghfirullah

1289
0
SHARE

Orang paling beruntung adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan mengingatnya paling tidak, ada yang disiapkan menuju kematian itu. Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Seperti yang terjadi pada pria ini yang bikin geger satu kampung.

Berikut kisahnya yang dikutip dari majalah Hidaya yang semoga dapat bermanfaat bagi kita untuk mengingat mati. Pagi itu, sebuah kampung di sudut desa Sumatera mendadak gempar. Seorang pemuda ditemukan meninggal oleh ibunya. Tak ada hujan, tak ada sakit. Pemuda 23 tahun itu meninggal mendadak dan banyak yang bilang karena angin duduk.

Tidak ada yang menduga, tak ada yang mengira jika pemuda yang masih bujangan itu akan meninggal di usia yang masih belia. Apalagi ia dikenal baik dan pendiam. Dari pengeras suara musholla kampung kabar itu menyebar ke semua sudut rumah sehingga banyak yang tak percaya apalagi baru saja semala pemuda itu asyik bercanda sesama warga.

Pemuda itu dipanggil Wayan (bukan nama sebenarnya).

“Kenapa Wayan pergi meninggalkanku secepat ini?” ratap ibunya

“Semalam dia masih bercerita banyak, tapi kenapa sekarang sudah terbujur kaku tak bernyawa dan secepat itu pergi meninggalkan kami semua?”

“Mengapa bukan aku yang harus meninggal terlebih dulu? Kenapa harus Wayan?” ratap ibunya kembali membuat semua orang ikut haru menyaksikan ibunya menangis didepan jenazah.

Setelah pihak keluarga berunding, akhirnya jenazah akan segera dimandikan agar cepat dikebumikan.

Darah Keluar dari Mulut

Dalam hitungan menit, jenazah Wayan yang dibopong itupun sudah berpindah tempat dan siap dimandikan. Tetapi saat jenazah siap dimandikan dan kain penutup yang membungkus almarhum dibuka dan hendak diguyur air, pihak keluarga yang akan memandikan jenazah Wayan dibuat tercengah dan juga terperangah kaget.

Ayahnya kaget melihat jenazah Wayan dari mulutnya mengeluarkan darah. Anehnya, darah yang ditemui oleh Kasmun masih mengalir dan membasahi raut muka Wayan sehingga orang-orang yang hendak memandikan jenazah pun melihat dan dibuat terperangah, bingung dan celingukan.

Dengan kain kapas yang sudah disiapkan untuk perawatan jenazah (bersama dengan alat dan peralatan-peralatan lain), ayahnya berusaha membersihkan darah yang mengalir dari mulut Wayan tersebut. Dia berusaha membersihkan dengan cekatan, seakan tak ingin anak lelakinya itu ternoda leleran darah.

Tetapi, darah yang mengalir dari mulut Wayan tidak kunjung berhenti. Darah itu semakin terus mengalir dari mulut Wayan dan warna darah yang keluar ternyata tak seperti umumnya darah. Darah yang keluar dari mulut almarhum beraneka warna atau berwarna-warni.

Memang, darah itu didominasi oleh warna merah, tetapi darah merah itu bercampur dengan darah kecoklatan, kebiru-biruan dan juga kehijauan yang mengundang orang-orang yang ada di dekat jenazah heran, juga terbengong-bengong. Orang-orang yang mau memandikan jenazah almarhum dibuat semakin bingung dan tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan untuk mengatasi keadaan.

Apalagi, seiring dengan leleran darah yang mengucur dari mulut Wayan itu, disertai pula dengan bau yang tak sedap dan tak enak untuk dihirup. Bau darah itu cukup menyengat, sehingga ayahnya sampai tidak kuat bertahan dekat jenazah anaknya sendiri, terpaksa menutup hidung rapat-rapat.

Udara di sekitar tempat pemandian jenazah pun segera tercemar dan bau tidak enak yang bersumber dari mulut Wayan pun menyeruak ke segala penjuru arah seiring hembusan angin. Orang-orang yang melayat jadi tak kuasa lagi menahan aroma tidak sedap tersebut yang bersumber dari mulut Wayan, dan segera menutup hidung rapat-rapat.

Di tengah suasana mencekam dengan bau busuk yang menyengat itu, Sarbini (30 tahun bukan nama sebanarnya) tiba-tiba beranjak dari kursi. Merasa kasihan, tidak tega melihat jenazah Wayan dibiarkan terbengkalai, dia segera melangkahkan kaki ke tempat pemandian jenazah. Seakan mendapat kekuatan dari langit, dia tidak peduli dengan bau yang menyengat.

Didorong perasaan tak tega melihat kondisi jenazah, dia segera memerintahkan pihak keluarga untuk membersihkan bagian tubuh Wayan yang lain, sementara dia sendiri mengurusi bagian kepala Wayan, terutama di mulut Wayan yang mengeluarkan darah segar.

Dengan telaten, Sarbini yang memang dikenal warga kampung Delima sebagai orang yang baik itu membersihkan mulut Wayan. Berulangkali, dia mengusap leleran darah yang mengalir tersebut, anehnya tetap saja darah dari mulut Wayan bercucuran terus dan tidak mau dihentikan. Darah itu seakan tak mau henti mengucur, dan prosesi pemandian jenazah Wayan itu pun harus memakan waktu lama, berjam-jam.

Karena darah itu tidak kunjung henti, pihak keluarga mulai diserang rasa cemas dan dicekam kebingungan. Akhirnya, proses pemandian jenazah diputuskan untuk disudahi, meski darah segar masih saja terus mengalir dari mulut Wayan. Dengan disumbat kapas putih, darah itu memang sedikit tertahan dan tak keluar.

Kendati demikian, rembesan darah yang mengalir dari sumbatan kapas tetap mewarnai kapas yang berwarna putih itu menjadi kotor akibat aliran darah dari mulut Wayan yang belum bisa dihentikan. Jenazah Wayan segera dibopong ke dalam rumah untuk dikafani dan kemudian dishalati.

Setelah mempertimbangkan kondisi jenazah yang sedemikian parah, maka prosesi pemakaman Wayan pun akhirnya dilaksanakan dengan cepat setelah jenazah itu dishalati. Maka, tidak lama setelah dishalati, jenazah Wayan langsung diusung ke tempat peristirahatan terakhir diiringi oleh para pelayat, yang sebagian besar adalah warga kampung Delima.

Tanah Kuburan Longsor

Setelah pelayat memasuki pintu makam dan kemudian sampai di dekat lubang kubur yang sudah disiapkan, maka keranda pun diletakkan. Jenazah Wayan pun diambil dari keranda, lalu diangkat oleh empat orang pelayat.

Tetapi, ketika jenazah diangkat, orang-orang yang hadir di pemakaman melihat di bagian kepala jenazah, terutama bagian mulut, ada bercak darah berwarna merah kecoklatan, kebiru-biruan dan juga kehijauan yang membasahi kain kafan berwarna putih menjadi ternodai. Apa mau dikata lagi, darah seperti tak bisa dihentikan.

Orang-orang memang sempat bimbang untuk memutuskan tentang keberadaan darah yang masih belum terhenti itu. Tetapi saat dua orang hendak turun ke liang lahat guna menyambut kedatangan jenazah Wayan (sebelum jenazah Wayan dimasukkan ke liang lahat), tanah yang ada di pinggiran kuburan tiba-tiba berjatuhan.

Longsor dan menimbuni sebagian lahan liang lahat. Dua orang yang bertugas turun di liang lahat terpana, kaget. Dalam keadaan itu, maka kedua orang itu segera turun untuk mengangkat tanah-tanah yang berjauhan dan menyesaki liang lahat. Tanah longsoran itu dibersihkan, tetapi lagi-lagi peristiwa yang sama terjadi kembali, berkali-kali.

Akhirnya karena tanah longsoran itu tidak seberapa, maka diputuskan tetap memasukkan jenazah Wayan ke liang kubu. Setelah jenazah ditempatkan di liang lahat, seorang mengumandangkan adzan. Setelah itu, jenazah ditutup dengan papan dan selanjutnya ditimbun dengan tanah. Seterusnya, orang-orang yang melayat pulang dan kembali ke rumah masing-masing. Tanah pekuburan umum itu lengang kembali!

Suka Amalan Kesaktian

Dengan kondisi seperti itu, bisa dimaklumi jika Wayan tidak bisa melanjutkan kuliah selepas SMU dan memilih menjalani hidup apa adanya. Kendati begitu, Wayan tidak mau hanyut dengan pergaulan anak-anak muda zaman sekarang yang nongkrong di pinggir jalan atau mabuk-mabukan.

Dia lebih memilih aktif di masjid, ikut kegiatan rebana dan juga pengajian. Pendek kata, dia dikenal warga kampung sebagai orang yang baik dan ringan tangan, apalagi kalau ada tetangga yang memiliki hajatan atau kerja bakti. Akan tetapi, ada satu sisi kehidupan Wayan yang membuat hidupnya itu beda dengan masyarakat pada umumnya, dan itu pengaruh dari orang tuanya.

Dia itu gemar mencari ilmu kesaktian, dengan menjalani amalan-amalan dari seseorang dan banyak mempercayai hal-hal yang bersifat mistis yang bahkan lebih mengarah ke musyrik, seperti melakukan amalan untuk mendapatkan keris, kekuatan tenaga dalam dan kesaktian lain lagi.

Banyak orang, mengira keluarnya darah itu sebagai dampak dari sakit paru-paru yang ia derita. Tapi ada juga yang menyangkal. Alasannya, jika akibat penyakit yang dideritanya, maka darah itu kecoklatan. Apalagi, saat mau dimasukkan ke dalam liang lahat itu, tanah di pinggir kuburan longsur berulangkali. Akibatnya, orang-orang hanya terheran-heran dan tak tahu ada apa di balik semua itu. Mereka semua berkesimpulan.

Wallahu’alam bishshawab, semoga tulisan ini bermanfaat mengingatkan kita.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here