Home Berita Nenek 83 Tahun Tega Cekik Anaknya Hingga Kehilangan Nyawa. Ketika Sidang, Hakim...

Nenek 83 Tahun Tega Cekik Anaknya Hingga Kehilangan Nyawa. Ketika Sidang, Hakim Menangis Dengar Alasannya

646
0
SHARE

Apakah mungkin seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri. Seburuk-buruknya ibu tetaplah ibu. Jikapun ia kejam, akan selalu ada penyesalan dalam hatinya saat menyakiti darah dagingnya. Banyak memang ibu super jahat yang membuat bayi yang baru dilahirkan.

Tapi berdasarkan penelitian, setelah melakukan itu ditangkap sambil menangis ibu itu akan selalu berkata menyesal. Hati mereka begitu lembut dan penuh cinta. Seperti kejadian berikut ini yang sungguh menyayat hati.

Huang seorang ibu 83 tahun yang tega membunuh anaknya sendiriSeorang ibu berusia 83 tahun nekat mencekik anaknya sendiri hingga tewas. Dengan berurai air mata, ibu tua renta itu langsung melaporkan kepolisi dan menyerahkan diri atas perbuatannya tersebut. Dia dikenal dengan marga Huang. Matanya selalu basah oleh tangis bahkan saat diadili atas perbuatannya tersebut.

Betapa tidak, hampir setengah abad ia merawat anaknya itu dan kini ia harus mengakui telah membunuhnya. Pada persidangannya pada tanggal 21 September lalu seperti dilansir Shanghaiist, dia menjelaskan mengapa dia membunuh anaknya sendiri.

“Saya semakin tua dan lemah dan saya takut bisa mati sebelum dia m dan dia tidak memiliki siapa pun untuk merawatnya,” kata Huang.

“Saya berjuang selama seminggu untuk mengambil keputusan sebelum memutuskan untuk memberinya 60 pil tidur, lalu memasukkan kapas ke hidungnya dan mencekiknya dengan syal sampai dia berhenti bernapas. Dan keesokan harinya, saya menyerahkan diri ke polisi,” ucapnya yang sontak membuat semua orang menangis.

Ditangan rentahnya ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya yang cacat itu.

Huang menangis

Ketika ditanya mengapa beberapa anggota keluarga lainnya tidak bisa mengurus anaknya, Huang menjawab bahwa dia tidak ingin menyampaikan beban berat itu kepada orang lain.

“Akulah yang melahirkannya dan membuatnya menderita. Saya lebih suka membunuhnya dari pada membiarkan dia dirawat orang lain.” tuturnya

“Mengakhiri hidupnya yang menyakitkan lebih baik daripada membiarkannya menderita lagi,” lanjutnya.

“Dia adalah anak saya, saya tidak pernah membenci atau mengabaikannya, saya tidak pernah berpikir untuk menyerah pada dia sebelumnya, tapi selama dua tahun terakhir kesehatan saya semakin memburuk, ini berat tapi saya sungguh menyayanginya,” ungkap Huang sambil berurai air mata.

Anak Huang lahir prematur dengan cacat mental dan fisik yang parah sehingga membuatnya tidak bisa berbicara, berjalan atau hidup sendiri. Selama bertahun-tahun, otot-ototnya atrophi dan kondisinya semakin memburuk, artinya ibunya harus meluangkan lebih banyak waktu merawatnya.

Huang di ruang pengadilan

Sementara teman-teman Huang menyarankan agar dia memberikan anaknya ke fasilitas kesejahteraan, Huang berkeras agar tidak ada yang bisa merawat anaknya lebih baik dari yang dia bisa.

Ketika usianya 47 tahun, dia melamar untuk pensiun sehingga dia bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk merawatnya. Di pengadilan, keluarga Huang membela tindakannya, menjelaskan bahwa setelah pengabdian selama 46 tahun merawat anaknya, dia terpaksa membuat keputusan mengerikan untuk mengakhiri kehidupan anaknya sendiri.

“Kejahatan ibu saya sama sekali tidak seperti pembunuhan,” ucap anak sulung Huang di depan hakim

“Dia hanya ingin mengakhiri penderitaannya. Di dalam hatinya, dia tidak ingin menyakiti adik laki-laki saya.” tambahnya

Pada akhirnya, pengadilan memberi Huang hukuman penjara tiga tahun yang ditangguhkan dengan hakim yang menjelaskan bahwa meskipun dia melanggar hukum, dia tetap berhak menerima belas kasihan.

“Alih-alih pembunuhan karena kebencian, ini adalah pembunuhan karena cinta, namun hak untuk hidup adalah hak seseorang yang paling penting. Tidak ada yang bisa mengambilnya, termasuk orang tua,” kata hakim tersebut.

Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here