Home Inspiratif Subhanallah, Tak Memiliki Tangan, Pria ini Tetap Gigih Jalani Hidup dan Rawat...

Subhanallah, Tak Memiliki Tangan, Pria ini Tetap Gigih Jalani Hidup dan Rawat Ibunya yang Sudah Renta

283
0
SHARE

Chen Xing, seorang warga di sebuah desa di China yang berusia 48 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kalau dirinya kehilangan sepasang tangannya sejak kecil. Meski tidak memiliki sepasang tangan lagi, namun berkat upaya kerasnya tanpa kenal lelah, Chen bukan saja berhasil melatih dirinya untuk mencari nafkah, tapi ia juga mampu merawat dengan baik ibunya yang sudah renta. Waktu masih kecil, Chen tumbuh dalam sebuah keluarga yang bahagia.

Orang tuanya baik dan rajin bekerja dan dia jugamemiliki seorang saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Kala itu, mereka sekeluarga masih hidup dengan bahagia dan harmonis.

Akan tetapi, saat berusia 7 tahun, Chen tiba-tiba tersengat listrik ketika sedang bermain di pematang sawah. Sengatan listrik tegangan tinggi tersebut menyebabkannya harus menjalani proses amputasi dan sejak saat itu, Chen kehilangan kedua lengannya.

Tak mau larut dalam kesedihan, saat usianya menginjak 14 tahun, dia pun mulai menggembala sapi dan kambing untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Semua pekerjaan keras ini rela dilakukannya tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Di usianya yang menginjak angka 20 tahun, Chen tak tega melihat ibunya setiap hari harus bekerja keras mencari uang dengan susah payah. Sesampainya di rumah, Chen kerap tidak bisa menikmati makanan yang sudah siap sedia.

Sejak itulah, dia mulai melatih ketrampilan jari kakinya untuk mengerjakan sesuatu. Sekarang, Chen Xing berusia 48 tahun, sementara ibunya telah menginjak usia 91 tahun.

Meski mengalami disabilitas, kemampuannya bekerja nyatanya tidak kalah dengan orang-orang normal. Bahkan hari demi hari, beban yang harus dipikulnya semakin berat dari sebelumnya.

Chen menjadi tulang punggung ibunya dan semangatnya untuk bertahan hidup sangatlah kuat. Beberapa tahun lalu, ada penduduk setempat yang menceritakan kepada Chen Xing bahwa banyak pengemis dan orang-orang cacat di pergi stasiun kereta kota untuk mengemis.

Dia menyarankan Chen Xing lebih baik mengemis di sana. Saat mendengar saran itu, Xing justru marah luar biasa. Dia menghardik orang itu dan berkata jikadirinya masih memiliki kaki yang sehat. Baginya, mengemis bukanlah pilihan untuk menjalani hidup.

Sehari-harinya Chen Xing tak pernah bermalam di luar atau pergi jauh dari rumah terlalu lama, karena ia khawatir tidak ada yang merawat dan menjaga ibunya, apalagi usia ibunya juga sudah semakin senja.

Ia juga mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia bertani dan beternak, uang yang dihasilkannya sudah cukup untuk biaya hidup sehari-hari mereka berdua.

Selain beternak sapi dan domba untuk menambah penghasilan keluarga, ia juga memelihara 4 ekor ayam betina, agar ibunya bisa menikmati telurnya.

Sejak kedua tangan ibunya semakin lemah, Chen Xing ternyata sering menyuapi ibunya makan dengan menggunakan sendok yang digigit di mulutnya, ia menyuapi ibunya sesendok demi sesendok sampai habis.

Seusai menyuapi ibunya, Chen Xing masih harus menyiapkan semangkuk sup lagi untuk ibunya di tempat tidur. Hidupnya memang berat, tapi Chen Xing tidak pernah menunjukkan kerapuhannya sendiri.

Dia hanya melakukan yang terbaik untuk mengatasi semua kesulitan. Dia juga selalu berusaha hidup dengan tegar dan sabar. Rasa puas dan bersyukurnya Chen Xing membuat banyak orang justru merasa malu.

Selain itu, kerja keras dan bakti tulusnya kepada sang ibu juga membuat kagum orang-orang yang melihat langsung kesehariannya!

Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here