Home Kisah Nyata Terima Order Gali Kubur, Pria ini Merinding, Saat Pulang ke Rumah Istrinya pun...

Terima Order Gali Kubur, Pria ini Merinding, Saat Pulang ke Rumah Istrinya pun Ketakutan, Ya Allah

220
0
SHARE

Pekerjaan sebagai penjaga atau penggali kubur, menyimpan banyak cerita/kisah yang jarang sekali dibagikan kepada orang banyak.

Persepsi umum tak lain tak bukan, karena seram, menakutkan dan bermacam-macam lagi yang ada di pikiran.

Kisah seorang penggali/penjaga kubur muda yang diceritakan oleh Ridhuan ini, akan semakin menyeramkan jika dibaca pada waktu malam.

Ditambah pula dengan bunyi serangga di luar rumah, bonus pula jika cuaca hujan, meningkatkan lagi penghayatan membaca cerita ini.

KALAU bekerja sebagai penjaga kubur atau penggali kubur, orang bilang normal bawa balik ‘benda itu’.

Berikut kisah selengkapnya:

Adli (bukan nama sebenar) berumur 30 tahun, menetap di kampung dan bekerja sebagai penggali dan penjaga kubur. Bukan atas terpaksa tetapi katanya warisan dan pekerjaan dari almarhum ayahnya.

“Kalau takut kerja di kubur, kerjalah di tempat lain. Ayah tidak paksa, nak. Kau tahu kerja ini tak menjatuhkan harga diri pun,” itu kata-kata ayah Adli sebelum dia menghembuskan nafas terakhir.

Berbekalkan semangat, Adli menyahut pekerjaan ini. Dia tidak ingin potong kompas. Biarlah dia menanggungnya walaupun banyak lagi pekerjaan di luar sana. Adli tidak pernah mengalami kejadian menakutkan lagi semenjak dia bekerja di tanah kubur di ujung kampung.

Sebab orang baik akan senantiasa dalam perlindungan-Nya. Tetapi kata-kata itu dia tarik balik. Mengapa? Pada satu malam Adli menjaga kawasan kubur selepas mendapat tugasan menggali kubur wakut malam.

Orang telepon katanya mau mengubur mayat pada waktu malam. Dia pun jalankan tugas. Tunggu punya tunggu, tak muncul-muncul. Mungkin kena tipu sepertinya. Adli kata apa salahnya kalau tunggu lama dikit.

Mungkin ahli keluarga si mati ada hal yang lebih penting. Dia doakan yang baik-baik saja. Saat menggali tadi jam 9 malam, sekarang sudah hampir tiga jam menunggu, tak sampai-sampai juga.

Ketika itu hanya Adli dan kawan baiknya sahaja, Zamrul (bukan nama sebenar). Zamrul kata dia tak boleh tunggu lama sebab ada perkara yang perlu dibuat. Jadi Zamrul pun balik dan tinggalkan Adli seorang diri.

Adli jarang mendapat tugas menggali kubur pada waktu malam. Kebiasaannya pada waktu sore, atau pun pada waktu pagi. Hati terasa panas juga. Lubang kubur sudah siap tetapi keluarga si mati tak sampai juga.

“Tanam belakang rumah agaknya,” selorohnya.

Adli kesal. Lama dia menunggu, siapa tak kesal? Ingin menenangkan hati, Adli tinggalkan tempat itu dan dia berjalan ke arah belakang. Ada laut, tanah perkuburan tepi laut. Angin malam sejuk ini boleh menghilangkan rasa marah.

Adli mengambil lampu minyak tanah yang dibawa bersamanya. Rokok dinyalakan. Angin tepi laut semua orang tahu anginnya agak kuat. Tetapi ada kejadian yang aneh yang terjadi pada Adli. Asap rokok yang dihembus itu bergerak perlahan dan asapnya tak berpecah.

Lampu minyak tanah yang dibawa tadi tiba-tiba terpadam sendiri. Dahinya pun berkeringat dalam sekejap, rasa tak enak hati. Adli pun bergerak semula ke tempat tadi. Saat dia berjalan, telinganya terdengar suara orang ramai menjerit-jerit meminta tolong.

Ketika itu jam 12 malam, mana mungkin ada orang yang mau bercanda di kuburan? Adli coba shalawat dan baca surah-surah pada umumnya. Segala suara yang dia dengar, coba dia lupakan dan berharap dia tidak diganggu.

Niat dia bekerja, bukan mau melakukan perbuatan yang jahat. Adli tiba di tempat dia menggali tadi. Memang tiada orang pun yang datang, kena tipu.

Adli pun mengambil barang-barangnya dan menyimpan di gudang pemakaman. Ambil botol air, letak dalam keranjang motor dan balik ke rumah.

Ketika motor Adli diparkir di bawah pohon besar yang tidak jauh dari tanah perkuburan itu, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Namun ia tetap melanjutkan perjalanan pulangnya.

Saat enak-enak mengendarai motor, tiba-tiba terasa berat. Sudah hampir sampai rumah dalam 30 meter lagi. Tetapi beratnya hanya Tuhan saja yang tahu. Badannya sudah bermandi peluh, berhenti sekejap untuk periksa tangki minyak ada banyak mana lagi. Periksa ban, tapi bocor. Benda tersangkut pun tak ada. Adli tidak berpikir yang bukan-bukan, tetapi dia berharap ‘benda’ itu tidak menganggunya.

Hingga akhirnya dia tiba di rumah almarhumah neneknya (rumah itu dah jadi rumah Adli dan isterinya), dia panggil isteri untuk membukakan pintu. Diketuk-ketuk pintu, namun tiada yang menyahut.

“Apakah sudah tidur?”

Adli pergi ke luar dapur dan berteriak dan membangunkan isterinya. Saat istrinya menuju pintu depan, sang istri sudah seperti orang ketakutan melihat hantu. Belum sempat Adli masuk, dia sudah menutup pintu. Terkejut besar Adli dibuatnya. Bergetar-getar suara isterinya dari dalam rumah.

“Bang, pulang dengan siapa itu??” tanya isterinya dari dalam.

Mana tak menangis, memang isterinya melihat makhluk itu di atas motor suaminya. Adli sudah pucat seperti orang hilang sel darah merah. Isteri memintanya antar balik makhluk itu.

“Tak sanggup melihatnya dengan rambut panjang berantakan,” katanya.

Adli sudah gemetar lututnya pada waktu itu, terduduk sekejap di tangga rumah tetapi dia tidak melihat apa-apa. Hanya dapat merasakan suara seram saja. Semua bulu kuduk di badannya merinding. Tapi mau tak mau, Adli putar balik ke tanah perkuburan.

Sepanjang berada di tas motor dan menuju semula ke tanah perkuburan, Adli tak berhenti-henti membaca segala surah yang dia tahu.

Berat memang berat tetapi sampai juga ke tanah perkuburan. Setibanya, Adli turun dari motor dan menarik nafas. Selepas itu baca ayat kursi dan ayat-ayat lain. Dia minta makhluk itu balik semula ke tempat asal dan jangan ganggu dia lagi.

Adli tak bisa melihatnya dan dia tak tahu sama ada makhluk itu sudah pergi atau belum.

Agak lama dia menunggu. Adli hanya dapat tahu benda itu dah pulang ke tempat asalnya apabila pohon di sebelah gudang tadi bergoyang-goyang.

Dalam sekejap, Adli langsung start motor dan pulang ke rumah. Alhamdulillah dia balik tanpa benda itu mengikutinya lagi.

Isterinya begitu galak tadi. Lebih aneh lagi saat Adli melihat kembali nomor panggilan yang dia terima tadi, ternyata tidak ada dalam panggilan terakhir. Ah sudah! Siapa pula yang menelpon?

Adli bilang semua peristiwa itu cuma mainan iblis untuk menakutkan manusia. Dia tidak pernah berputus asa bekerja di tanah perkuburan itu.

“Itu semua dijadikan sebagai penguat semangat. Lumrahlah kena ganggu, normal” kata Adli.

#Pesannya, semangat harus kuat seperti Adli. Yang penting iman di dada perlu ditingkatkan. Iman tebal bukan syaitan dan iblis saja yang takut, perilaku orang yang macam setan pun tak berani medekati kau. Hahaha!

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here