Home Kisah Upaya Membuka Cadar Muslimah adalah Awal Penghianatan yahudi di Madinah

Upaya Membuka Cadar Muslimah adalah Awal Penghianatan yahudi di Madinah

86
0
SHARE

Pasar Bani Qoinuqo’, Madinah 1435 Tahun yang Lalu
Seorang perempuan Muslimah baru saja datang untuk menjajakan barang dagangannya. Tak berselang lama, datang segerombolan orang Yahudi menggodanya. Mereka memintanya membuka cadarnya.

Tentu saja muslimah itu menolak keras tapi orang-orang Yahudi itu tak menyerah begitu saja. Mereka terus berusaha membuka penutup wajahnya itu.

Sampai akhirnya perempuan itu lengah, ketika ia sedang duduk salah satu diantara mereka mengikat ujung bawah jubah muslimah itu dengan seikat tali lantas mengaitkannya ke bagian atasnya, imbasnya ketika ia berdiri bagian bawahnya tersingkap dan terbuka.

Perempuan itu menjerit histeris lalu meminta pertolongan. Terjadilah pertikaian antara kaum Yahudi dan Muslimin di pasar Bani Qoinuqo’ di siang itu. Dan itulah “ulah” Pertama yang dilakukan Yahudi Madinah.

Rasulullah Saw tidak tinggal diam. Demi membela kehormatan Perempuan Muslimah itu, beliau mengirim ribuan pasukan untuk mengepung Yahudi Bani Qoinuqo’.

Setelah pengepungan berhari-hari dengan berbagai negosiasi, akhirnya diputuskan Bahwa Yahudi Bani Qoinuqo’ harus keluar dari Madinah dan diasingkan ke Adriaat di tanah Syam.

Itulah kisah pengkhianatan Yahudi terhadap Rasulullah Saw yang diawali dari “keisengan” mereka untuk menyingkap cadar seorang Muslimah..

Mengomentari kisah diatas, Syaikh Muhammad Said Romadhon Al-Buty berkata (sengaja saya nukil pendapat beliau karena ia adalah figur Aswaja dan Islam Moderat di Abad ini yang sangat gigih dalam memerangi pemahaman radikal):

“Ini menunjukkan bahwa Hijab yang disyariatkan dalam islam juga mencangkup bagian wajah, karena jika tidak begitu, untuk apa perempuan itu keluar ke pasar dengan menutup wajahnya? Jika ia menutupnya bukan karena faktor agama, orang-orang Yahudi itu tak akan tergoda untuk membuka penutup wajahnya…” (Fiqhussiroh 168-170).

Yang perlu dicatat.. Syaikh Buty bukanlah Ulama yang pernah hidup di Yaman ataupun Saudi. Beliau adalah Ulama Suriah yang kebanyakan muslimahnya tidak memakai cadar. Meski begitu beliau tetap condong kepada pendapat yang menyatakan cadar adalah sebuah “kewajiban”..

Untuk anda-anda yang akhir-akhir ini suka berkomentar nyinyir tentang muslimah-muslimah bercadar setelah “kasus” pelarangan cadar di UIN Jogja itu.. Sebelum berkomentar renungkanlah dengan baik hal-hal dibawah ini:

  • Cadar bagi mereka bukan hanya sekedar kain seperti yang anda bayangkan. Bagi mereka memakai cadar adalah sebuah “kewajiban” berpedoman pada Qoul sebagian Ulama yang menyatakan wajah adalah aurat. (Cek kitab “Ila Kulli Fatatin tu’minu billah” karangan Syaikh Buty).
  • Mereka memakai cadar karena terinspirasi oleh idola agung mereka, wanita terbaik yang pernah ada, Fatimatuzzahro Bintu Muhammad SAW. Ia yang mempunyai prinsip kukuh untuk tidak terlihat oleh pria yang bukan mahramnya. Ia yang karena prinsip mulianya itu, kita semua akan menundukkan kepala ketika ia dan para pecintanya akan melewati Shirat kelak di hari kiamat.

Jadi kalo mereka memakai cadar karena “ikut-ikutan” Sayyidah Fathimah apa masalahnya? Lah mereka yang buka-bukaan karena ngidolain Lady Gaga dan Rihanna gak pernah lu masalahin? Afala Ta’qiluun? Afala Tubshirun?

Memakai cadar itu tidak mudah. Bukan sesimpel menutup wajah dengan kain seperti yang kita bayangkan, banyak dari mereka yang harus melalui jutaan cobaan untuk mempertahankan cadarnya.

Bullyan, cibiran, tekanan dari orang terdekat, keluarga dll. entah berapa banyak air mata yang mereka tumpahkan untuk menghadapi itu semua, berapa sering doa-doa mereka panjatkan agar tetap diberi keteguhan menanggung prinsip mereka itu.. Mempertahankan cadar itu adalah perjuangan yang sangat berat.

Lah kita malah gampang banget komen nyinyir kesana kemari? Perasaan Bang. Mana perasaan?

Saya adalah abang dari seorang wanita bercadar, adik saya yang alumni Tarim adalah satu-satunya yang bercadar dalam keluarga.

Ia memakai cadar karena ia meyakininya sebagai kewajiban, menjalankan perintah Guru-gurunya di Tarim dan tentunya untuk mengikuti jejak Sayyidah Fatimah dan wanita-wanita Tarim.

Pastinya tidak mudah menjadi yang pertama dan satu-satunya yang bercadar dalam keluarga. Berbagai tekanan dan cibiran pahit harus ia hadapi. Entah berapa kali ia curhat sambil meneteskan air mata.

Saking kasihannya, sampai-sampai saya ingin berkata: “Udah gak usah pakek cadar wess.. Timbang kayak gini jadinya…” Tapi Alhamdulillah ia tetap teguh atas pendiriannya hingga detik ini.

Membayangkan ketulusan dan perjuangannya tentunya ana gak bakal mudah komen asal-asalan tentang cewek bercadar…

“Ngapain sih ribut ribut ?? Masalah cadar dilarang doang.. !!”

“Nggak ribut kok Bang.. Simpel aja. Sesimpel tanggapan Syaikhina Buty ketika cadar dilarang disalah satu Universitas Suriah :

“Itu yang hampir telanjang di jalanan gak kalian urusin, cadar malah kalian ributin.. Apa gak ada hal yang lebih penting yang bisa kalian urus ?”

Akhirnya cadar gak jadi dilarang di Suriah.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here