Home Kisah Nyata Ya Allah, 25 Hari Bercerai, Suamiku Nikah Lagi, Saat Lihat Pengantin Wanita,...

Ya Allah, 25 Hari Bercerai, Suamiku Nikah Lagi, Saat Lihat Pengantin Wanita, Anakku Menangis

331
0
SHARE

Mengarungi bahtera rumah tangga terkadang tak seindah yang dibayangkan. Terjadi selisih paham, masalah ekonomi hingga perselingkuhan terkadang menjadi pemicu retaknya keharmonisan rumah tangga. Tak kunjung temukan titik terang, hingga perceraian dianggap menjadi solusi terbaik antar keduanya.

Kisah haru ini harus dialami sepasang suami istri yang telah dikarunia seorang anak laki-laki. Berawal dari sering terjadi selisih paham hingga berujung tragis. Berikut kisah selengkapnya!

Ketika kuliah, aku mulai menjalin cinta dengan mantan suamiku. Ketika lulus, aku memilih untuk langsung bekerja, sedangkan ia memilih melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Ketika ia sedang menjalani studinya, ayahnya mengalami sakit parah, kondisi keuangan keluarganya yang dari awal tidak begitu bagus, menjadi semakin buruk.

Ketika itu, aku memutuskan untuk memberikan gajiku kepadanya. Bahkan uang sekolah adik perempuannya, aku juga membantu membayarkan. Banyak orang di sekitarku mengatakan bahwa aku sudah gila.

Namun, ketika itu ia adalah orang yang paling aku kasihi dan berharap bisa terus bersamanya, karena itulah aku rela membantunya.

Ia kemudian lulus dan bekerja di perusahaan besar, dengan gaji yang tidak besar. Meski kondisi keluarganya tidak begitu baik. Namun aku dan orangtuaku merasa ia memiliki potensi untuk sukses.

Karena itulah, mereka tidak melarangku untuk menikah dengannya. Orangtuaku membayar uang muka untuk membeli rumah untuk kami tinggali.

Nama kepemilikan rumah adalah namaku dan mantan suamiku. Tidak lama setelah itu, akhirnya kami menikah. 6 bulan menikah, kami dikaruniai seorang anak. Ia menyuruhku untuk berhenti kerja, ia mengatakan bahwa ia bisa membiayaiku.

Ketika itu aku merasa tersentuh dengan sikapnya, namun aku memilih untuk tidak berhenti kerja. Aku berpikir bahwa seorang wanita harus mandiri. Setelah anakku lahir, mantan suamiku sangat mencintai putra kami, ia juga memberikan yang terbaik untukku dan putraku.

Sayangnya, hari-hari bahagia tidak berjalan lama, di tahun kelima kami menikah, hubungan kami mengalami perubahan. Ia tidak lagi memperhatikanku, setiap hari ia sibuk bekerja. Aku juga sudah sering berbicara dengannya, namun ia mengatakan bahwa tekanan pekerjaan terlalu berat dan menyuruhku untuk tidak terlalu banyak berpikir.

Berbulan-bulan berlalu, hubungan kami semakin memburuk, hal ini membuatku cemas, aku mulai marah dengannya, yang membuatnya lama kelamaan tidak bisa bersabar lagi.

Ia mengatakan bahwa aku berubah, aku menjadi tidak masuk akal dan neurotik (cemas, merasa tidak aman, depresi). Akhirnya, ia mengatakan ingin bercerai dan sudah tidak ada perasaan kepadaku.

Kepribadian kami juga sudah tidak cocok lagi, perasaan kami lama kelamaan mulai memudar, yang tersisa hanyalah tanggung jawab.

Aku pun menangis semalaman, tidak pernah terpikirkan olehku, hal ini bisa terjadi, aku bahkan curiga ia menikahiku karena aku baik kepadanya dan ia tidak ingin mengecewakanku.

Yah, karena sudah tidak ada perasaan, buat apa dipaksakan? Ia mengatakan rumah kami menjadi milikku, deposit mobil berikan kepadanya, agar ia bisa membeli sebuah rumah kecil untuknya tinggal.

Aku tidak ingin bertengkar karena masalah ini dan aku setuju dengan keputusannya.

Setelah bercerai, aku merasa beruntung karena aku tidak berhenti bekerja sebelumnya. Jika tidak, bagaimana aku bisa hidup.

Yang tidak terpikirkan olehku lagi adalah, sudah banyak yang tahu berita mengenai perceraianku ini. Aku tidak tahu dari mana datangnya kabar itu, namun aku juga tak peduli.

Tidak lama setelah kami bercerai, aku mendengar kabar bahwa mantan suamiku akan menikah lagi, merasa sedikit marah, memang ia sebegitu bagusnya? Baru bercerai 25 hari, sudah ada wanita yang mau menikah dengannya?

Aku sangat penasaran wajah wanita yang akan menikah dengannya, kenapa mereka bisa begitu cepat sudah menikah. Namun, aku juga tidak bisa meninggalkan putraku di rumah sendirian, akhirnya aku pun membawanya bersamaku.

Ketika sampai di pesta pernikahan mantan suamiku, tamu-tamu sudah pada berdatangan. Beberapa orang yang mengenalku kaget kenapa aku bisa datang.

Kemudian, mantan suami dan calon istrinya pun muncul. Ia memakai makeup, jadi aku tidak begitu jelas bagaimana wajah aslinya, namun seperti ia lebih muda dariku.

Anakku tiba-tiba menjerit, ia menangis dan berkata:

“Ia adalah bibi yang jahat, ketika itu ia tidak memakai baju memukul pantatku!”

Aku cepat-cepat menutup mulut anakku, meski aku benci dengan mantan suamiku, namun aku tidak ingin merusak pernikahannya.
Anakku semakin menjadi-jadi, akhirnya aku menghiburnya dan menanyakan apa yang terjadi. Anakku berkata dengan masih menangis,

“Ketika ibu tidak di rumah, bibi jahat dan ayah tidak berpakaian di dalam kamar dan mengunci pintu. Karena aku ingin minum, aku memanggil ayah, tapi bibi jahat yang keluar dan memukulku, menyuruhku untuk tidak berisik, jika tidak ia akan membunuhku”.

Mendengar semua ini membuatku naik darah. Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik-bisik. Ternyata mantan suamiku selama ini selingkuh, bahkan sampai membawanya pulang ke rumah.

Tidak berpikir panjang, aku naik sambil membawa botol wine dan memukul suamiku, ia lalu jatuh dan kepalanya mengeluarkan sedikit darah.

Kemudian mempelai wanita mulai menjambakku, namun aku bersikeras melawannya. Dulu aku pernah belajar tinju, dan ternyata ada gunanya.

Kekacauan terjadi di pesta itu, aku akhirnya membawa anakku, memilih untuk pergi dari tempat itu.

Aku mendengar kabar bahwa mantan suamiku mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya. Wajah wanita penggoda itu juga babak belur.

Beberapa orang mengatakan bahwa aku keterlaluan, sudah bercerai, namun aku masih menghancurkan pernikahan orang lain.

Aku hanya ingin mengatakan kepada mereka semua, kalau anaknya dipukul, apa mereka bisa tinggal diam? Mantan suamiku sudah menipuku, ia minta cerai, tabungan juga minta dikasih ke dia, bagaimana mungkin aku tidak marah? Hal seperti ini benar-benar sudah melewati batas kesabaranku!

Wah! Bagaimana menurut pendapat Kalian mengenai hal ini? Semoga hal seperti tidak terjadi di kehidupan kita ya.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here