Home Kisah Ya Allah, Baru Berusia 9 Tahun, Bocah Ini Gantikan Peran Ayah Sebagai...

Ya Allah, Baru Berusia 9 Tahun, Bocah Ini Gantikan Peran Ayah Sebagai Pemulung, Tahan Air Matamu

197
0
SHARE

Masa anak-anak harusnya dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman sebaya dan menikmati masa tumbuh kembang di bangku sekolah dengan baik. Namun, perjalanan hidup seindah itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Asep bocah berusia 9 tahun. Yang sudah memikul beban berat dan menjadi tulang punggung keluarga.

Asep tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sempit di Rt 08, Kelurahan Siderejo, Kecamatan Lubuklinggau Barat II‎ bersama ayahnya Zulkifli dan kedua adiknya Rani berusia 7 tahun, Aldi berusia 6 tahun. ‎Ayahnya yang berprofesi sebagai pemulung sejak setahun terakhir sering sakit-sakitan dan hanya mampu bekerja paruh waktu.

Sementara ibu mereka sudah tidak ada lagi karena meninggalkan mereka sewaktu masih balita. Di tengah himpitan ekonomi itu membuat ‎Asep pun harus membanting tulang menggantikan peran ayahnya menjadi seorang pemulung. Asep bekerja sehabis pulang sekolah dengan mendorong gerobak kecilnya menuju pasar Mambo untuk mencari botol-botol plastik bekas dan kardus.

‎”Sehari kadang dapat Rp 7 ribu, paling banyak 15 ribu. Kadang idak langsung di jual dikumpulkan dulu, ketika sudah banyak baru diantar ke pengepul,” ungkapnya pada Tribunsumsel.com, Minggu (12/11).

Murid kelas 3 SD Yayasan Azariah kota Lubuklinggau itu mengaku ketika sedang memulung kadang mendapat bantuan dari ‎orang lain yang merasa iba kepadanya. Uang pemberian orang lain itu pun langsung dibawanya pulang diserahkan pada ayahnya.

“Kadang ada yang ngasih Rp 50 ribu,‎ Duitnyo diserahkan pada ayah, sisanya untuk jajan. Kadang juga kalau lebih ditabung masuk celengan‎ untuk bantu bayar kontrakan Rp 250 perbulan,” ujar Asep.

Sementara Zulkipli ayah Asep mengaku tidak pernah menyuruh putra pertamanya itu menggantikannya perannya menjadi seorang pemulung, menurutnya Asep memulung di pasar Mambo atas kemauannya sendiri.

“Mulanya memang saya ajak mulung, kalau dibiarkan dirumah selalu ribut dengan adiknya. Asep agak nakal. Karena takut ribut dan ganggu orang lain itulah saya bawa dia mulung keliling,” ungkapnya.

Zul mengatakan bukannya dirinya tidak pernah menegur dan melarang Asep untuk memulung. Karena khawatir dicap orang memanfaatkan anak untuk mencari nafkah. Namun setiap kali dtegur dan tidak diizinkan pergi, Asep selalu menangis.

Alasannya Kata Zul, Karena Asep kasihan ketika melihat penyakit sesak napasnya kambuh. Itulah sebabnya Asep menginginkan dirinya diam di rumah menemani kedua adiknya.

“Kadang saya di rumah, karena sudah tua, Saya ini kena penyakit sesak napas, kalau terlalu dingin kambuh, terlalu panas kambuh, pernah waktu itu saya pakai baju tiga lapis tapi ternyata masih kambuh,” kata Zul.

Terkait pekerjaan Asep. ‎Hanya satu yang Zul khawatirkan yakni masalah lingkungan pergaulan Asep yang selalu bertemu dengan anak-anak jalanan, ia khawatir Asep terjerumus ‎lingkungan yang salah.

“Kalau Asep tidak langsung pulang ke rumah, saya bersama tetangga sebelah ini langsung mencarinya. Saya takut Asep ketularan temannya ngisap lem aibon,” ucapnya.

Untuk itu, Zul sangat berterima kasih kepada pemerintah kota Lubuklinggau yang telah mendatangi rumah dan ‎menjenguknya, bahkan mereka berjanji menyekolahkan kedua adik Asep.

“Kemarin Ibu walikota Lubuklinggau sudah berkunjung kesini memberikan sedikit bantuan. Rencananya adik-adik Asep ini akan dimasukkan di pesantren, sedangkan Asep tetap sekolah bersama saya,” ungkapnya.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here